Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
4
Nov '02

“Soundrenaline”: Slank, Puncak di Tengah Acara


Soundrenaline berakhir tadi malam, Minggu (3/11), pukul 23.30 WIB. Boomerang, grup rock kelahiran Surabaya, menutup rangkaian pertunjukan musik dua hari –Sabtu (2/11) dan Minggu tersebut.

Setiap hari, pergelaran musik gede-gedean di Lapangan Parkir Timur Senayan (Jakarta) itu dimulai pada sekitar pukul 11.00 WIB dan diakhiri pada tengah malam. Tiga puluh enam nama –34 band, serta dua penyanyi solo (Ari Lasso dan Sarah Silaban)– tampil dalam dua hari tersebut. Semuanya dari dalam negeri.

Mereka bisa digolongkan menjadi 14 band dan satu vokalis (Ari Lasso) yang sudah tak asing lagi di industri musik rekaman Tanah Air, enam pendatang baru dalam industri musik rekaman kita yang dinilai berpotensi bakal jadi terkenal juga (termasuk penyanyi solo Sarah Silaban), empat grup baru binaan A Mild Production di masing-masing area pemasaran rokok A Mild, plus 11 band baru yang telah melewati seleksi oleh pihak penyelenggara bekerja sama dengan Majalah Hai.

Di hari pertama, dari 16 nama terkenal ada Tic Band, Wayang, Sheila on 7, Naif, Base Jam, Ari Lasso, Jikustik, GIGI dan T-Five. Di hari kedua, ada Power Slaves, Pas, Edane, Slank, /rif, BIP dan Boomerang.

Dalam jumpa pers di belakang panggung pada Minggu petang, pihak penyelenggara, yaitu A Mild Live Production yang diwakili oleh Henny Susanto dan Deteksi Production yang diwakili oleh Harry “Koko” Santoso, mengatakan bahwa jumlah penampil Soundrenaline bertambah menjadi 36 nama. Hal itu disebabkan oleh dilibatkannya kemudian para pendatang baru berpotensi yang berminat untuk ikut, yaitu Ungu, C4, Shiva, Clubeighties, Debrur dan Sarah Silaban.

Namun, sebaliknya, dari 25 nama yang pertama kali dipastikan akan ambil bagian dalam Soundrenaline, grup Spirit Project dari Prancis dan Belanda, satu-satunya band dari luar negeri, batal manggung pada Sabtu (2/11) malam.

Ungkap Koko, oleh pihak berwenang, setiap harinya Soundrenaline harus diakhiri pada pukul 00.00 WIB. Pada Sabtu, karena mekarnya pemakaian waktu sebelumnya, Spirit Project yang ditempatkan sebagai band penutup pada Sabtu, akhirnya tidak kebagian waktu untuk tampil.

Aku Vreda Wusan dari DBB Vertigo yang mempublikasikan informasi resmi tentang Soundrenaline kepada pers, untungnya Spirit Project tak mempersoalkan hal tersebut. Honor mereka tetap dibayar. Datang ke Indonesia pun mereka bukan hanya untuk Soundrenaline, melainkan juga untuk tur Liquid Flux ke 14 kota besar di sini pada Oktober lalu, yang diselenggarakan pula oleh pihak yang sama.

***
Diadakan di Lapangan Parkir Timur Senayan, Soundrenaline –yang direncanakan bakal digelar setahun sekali– memakan lahan dua hektar. Area pertunjukan berbentuk segi empat itu dipagari oleh 70 kontainer.

Dalam jumpa pers di Hard Rock Cafe Jakarta, pada 25 Oktober lalu, penyelenggaranya berharap bakal hadir sekitar 50 ribu penonton. Sementara itu, pada pertengahan Oktober, tiketnya yang berharga Rp 25.000 per lembar (berlaku untuk satu hari pertunjukan) dan Rp 40.000 per lembar (berlaku terusan, untuk dua hari pertunjukan), mulai dijual.

Kenyataannya, menurut keterangan Cindy Kartika Sari yang menangani tiket dari Deteksi Production, untuk hari pertama, dengan sajian musik yang lebih “manis”, seperti hit-hit milik Sheila on 7, Jikustik hingga GIGI, terjual sekitar 13.211 tiket. Jumlah tiket yang terjual menjadi lebih banyak, 23.104 lembar, untuk hari kedua, dengan suguhan musik yang lebih “keras” kepunyaan Pas, /rif sampai Boomerang.

Tentu saja, jumlah penonton tidak bertahan di angka-angka itu dari awal sampai akhir pertunjukan. Ketika band-band baru beraksi pada siang hari, paling-paling ratusan orang yang menonton mereka.

Slank boleh dibilang masih menjadi pemikat paling kuat. Tidak bisa dikatakan Slank tak punya pengaruh dalam menaikkan jumlah penonton di hari kedua.

Seperti diakui oleh Vreda yang mempublikasikan informasi resmi tentang Soundrenaline kepada pers, para penggemar Slank (Slankers), yang tidak punya tiket tapi tetap ingin menonton, pada Minggu sekitar pukul 18.30 WIB, dibolehkan masuk ke area pertunjukan secara gratis, dalam rangka mencegah keributan.

Dengan pertimbangan daya tarik bagi penonton dan jumlah hit yang mereka sajikan, Slank, seperti juga Sheila on 7, Ari Lasso dan GIGI, diberi waktu manggung satu jam. Masih soal waktu tampil, di bawah mereka ada Boomerang (50 menit) dan grup-grup lain yang juga sudah punya nama di industri musik rekaman (40 menit).

Tapi, Slank, sebagai pemikat paling kuat, tidak ditempatkan di ujung hari kedua, supaya para penonton bertahan di tempat. Slank malah main selepas magrib. Maka jadilah aksi Slank puncak di tengah, bukan di akhir acara.

Sesudahnya, ditaruh /rif dan BIP. Sambutan rata-rata penonton pun mengendur, kecuali para penggemar /rif dan BIP.

Penutupnya, Boomerang, yang menghadirkan vokalis grup Suckerhead, Khrisna J Sadrach, sebagai teman duet vokalis Boomerang, Roy, dalam lagu Neraka Jahanam yang pernah dipopulerkan oleh Achmad Albar dan Ucok Harahap alias Duo Kribo. Boomerang boleh dibilang berhasil mengajak sebagian penonton ikut bernyanyi. Tapi, sebagian lagi penonton mulai beranjak keluar ketika Boomerang baru membawakan empat-lima lagu.

***
Meskipun kondisi Indonesia sedang dirundung masalah peledakan bom, diakui oleh Koko dalam jumpa pers di Hard Rock Cafe Jakarta, penyelenggara tidak menghadapi kesulitan untuk memperoleh izin untuk mengadakan Soundrenaline dari Polda Metro Jaya.

Polda Metro Jaya, lanjut Koko, tentu saja punya sebuah rancangan pengamanan yang harus dipatuhi bersama dengan pihak penyelenggara. Sesuai konsep itu, Polda Metro Jaya, antara lain, mengerahkan 20 SSK (Satuan Setara Kompi) yang berkekuatan 2.400 personel setiap hari, termasuk di dalamnya tim evakuasi. “Kami juga harus menyediakan tim pertolongan pertama, termasuk ambulan, dan menyiapkan rumah-rumah sakit rujukan terdekat,” terang Koko.

Seperti yang diharapkan, Soundrenaline berlangsung aman. Para penggemar berbagai artis musik –bahkan ada yang dari luar Jakarta, seperti Bogor (Jabar) dan Jember (Jatim)– bisa berdampingan menikmati suguhan di panggung. Tak ada keributan antarmereka. Tidak ada pula pertikaian antara mereka dengan para petugas keamanan, baik dari pihak penyelenggara maupun Polda Metro Jaya.

Yang semula sudah ada konsepnya, tapi pada akhirnya konsepnya tak berjalan baik adalah penanganan sound system atau tata sound dengan kekuatan 200.000 watt. Sonny Soebowo, penata sound yang bertugas sebagai supervisor penanganan sound untuk Soundrenaline, sebetulnya hendak menerapkan pemakaian mixer digital (Roland VM 7200 C) untuk mengatur tata sound 36 penampil selama dua hari.

“Dengan mixer ini, kebutuhan tata sound semua penampil bisa diprogram. Program kebutuhan tata sound setiap penampil tinggal dikeluarkan ketika penampil itu manggung,” jelas Sonny kepada KCM. “Mixer kayak gini biasa dipakai di acara-acara musik gede-gedean seperti Woodstock (di AS),” tambahnya. “Kalau pakai mixer analog, tata soundnya diatur secara manual dan dibutuhkan banyak sekali kabel. Kalau ada trouble, malah jadi repot mengatasinya,” sambungnya.

Namun, pada kenyataannya, sebagian besar penampil, terutama yang di hari kedua, ingin mengerahkan penata-penata sound sendiri. Cuma tata sound Wayang, Power Slaves dan Slank yang 100 persen diurus oleh Sonny atas permintaan mereka.

Berhubung masih sangat asing dengan mixer digital, para penata sound itu memilih untuk memakai mixer analog. Jadilah, kata Sonny, kualitas tata soundnya kurang memuaskan, lantaran harus ada perubahan penataan dalam waktu yang singkat, setiap kali penampil berganti. Ketika Boomerang, contohnya, kadang vokalnya tak keluar, kadang musiknya mendem.

Ada satu hal lagi soal tata sound yang mengganggu. Pada hari pertama, banyak mikrofon nirkabel (wireless mic) yang mati mendadak ketika hendak atau sedang digunakan oleh para penampil. Hal itu dialami oleh T-Five yang memakai lima mikrofon nirkabel.

Sonny memaparkan, kawasan Senayan adalah kawasan rawan untuk acara di udara terbuka yang menggunakan mikrofon nirkabel. “Di Senayan ada TVRI, ada Polda Metro Jaya. Sering ada tarik-tarikan sinyal yang menyebabkan matinya wireless mic,” katanya. Di hari kedua, untuk menghindari terulangnya hal tersebut, hanya dipakai dua mikrofon nirkabel.

Selain masalah tata sound, tata cahaya 500.000 watt untuk panggung besar Soundrenaline yang berukuran 342 meter persegi tampak terlalu biasa. Di samping itu, gambar-gambar yang ditayangkan di layar-layar besar panggung sering tidak berfungsi mendukung sajian para penampil, misalnya untuk mengilustrasi lirik lagu.

Sumber :( Ati) Kompas Cyber Media, Jakarta


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Jakarta Diguncang Gelegar Musik Rock
Artikel selanjutnya :
   » » Reza, Album Barunya Dikerubut Musisi Muda