Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
11
Okt '02

Mennakertrans: Bicarakan Upah secara Bersama dan Bijak


Keputusan kalangan pengusaha di DKI Jakarta untuk tidak menaikkan upah minimum provinsi (UMP) pada tahun 2003 akan berisiko tinggi terhadap kinerja perusahaan. Sebab, keputusan itu bisa menyulut protes pekerja. Karena itu, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Mennakertrans) Jacob Nuwa Wea menyarankan agar pengusaha dan pekerja membicarakan soal UMP 2003 secara bijaksana.”Kalau teman-teman pengusaha tidak menyesuaikan UMP tahun 2003, risikonya sangat tinggi. Mereka harus bertanggung jawab kalau misalnya nanti, ada pekerja yang menolak, unjuk rasa, mereka yang akan menderita sendiri,” kata Mennakertrans, usai mengikuti Sidang Kabinet di Sekretariat Negara di Jakarta, Kamis (10/10).

“Kalau memang antara pekerja dan pengusaha sepakat untuk tidak naik, menteri setuju saja. Jadi, sebaiknya bicarakan baik-baik. Ada parameter-parameter yang bisa dipakai untuk membicarakan hal itu,” ujarnya.

Menurut Nuwa Wea, pada dasarnya sejak kemerdekaan RI, upah buruh di Indonesia tidak pernah naik, melainkan hanya penyesuaian upah. Yaitu menyesuaikan upah dengan tingkat inflasi, dan tingkat kemahalan akibat dari inflasi. “Jadi, beda antara kenaikan dan penyesuaian. Yang terjadi adalah penyesuaian, bukan kenaikan,” kata Nuwa Wea.

Maksimal 20 persen

Secara terpisah, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (K-SPSI) Syukur Sarto mengatakan, berdasarkan hasil penelitian tim K-SPSI DKI di lapangan, pada bulan Juni saja kebutuhan hidup minimum (KHM) mencapai Rp 1.316.000 per bulan bagi pekerja lajang.

Kendati demikian, K-SPSI hanya mengajukan kenaikan upah maksimal 20 persen dari Rp 591.266 upah minimum provinsi (UMP) tahun 2002. “Pengusaha memang lagi payah sehingga kenaikan yang diajukan K-SPSI DKI tidak lebih dari 20 persen, supaya perusahaan bisa terus beroperasi dan PHK bisa dihindari,” tegas dia.

Menurut Syukur, sampai saat ini belum ada keputusan tentang besarnya UMP tahun 2003. “Buruh masih bersedia untuk negosiasi menyangkut kenaikan UMP, tetapi jangan sampai tidak ada kenaikan sama sekali. Pasalnya kebutuhan hidup terus melambung,” tutur Syukur.

Wakil Ketua Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Rekson Silaban menjelaskan, sejumlah serikat pekerja (SP) memang pernah diundang untuk membicarakan UMP 2003 di DKI. Dalam pertemuan tersebut, awalnya diputuskan agar masing-masing kelompok yakni pengusaha dan buruh melakukan penelitian sendiri-sendiri di lapangan, yakni pasar tradisional untuk mencari besarnya KHM.

Keputusan itu ditolak Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) DKI Jakarta dan akhirnya penelitian diserahkan kepada Lembaga Penelitian Pengupahan Daerah. Alasan penolakan karena SP dikhawatirkan menggelembungkan harga-harga kebutuhan, sedangkan pengusaha cenderung mematok harga terendah.

Berdasarkan penelitian lembaga tersebut, KHM di DKI dengan kondisi sekarang mencapai Rp 700.000 per bulan. “Atas hasil penelitian tersebut, Disnaker mencak-mencak, karena dinilai terlalu besar. Padahal, yang melakukan penelitian aparat Disnaker juga dilibatkan. Pokoknya SBSI tetap berpedoman UMP 2003 harus Rp 700.000,” kata dia.

Ketika ditanya tentang sikap pengusaha yang tidak akan menaikkan UMP 2003, rekson Silaban mengatakan,”UMP sebaiknya ditentukan secara sektoral atau berdasarkan hasil musyawarah bipartit saja tanpa melibatkan pemerintah. Terus terang masih banyak pengusaha yang mampu menaikkan upah, justru yang berteriak kesulitan itu hanya berlindung di balik buruknya perekonomian.

Sumber : (ELY/OSD/MBA/ETA) Harian Kompas, Jakarta


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Leo Joosten, Pembuat Kamus Batak
Artikel selanjutnya :
   » » Another ‘’K'’ Album From Reza