Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Kamis
1
Agt '02

Mengapa Orang Batak Temperamental?


Batak Temperamental ?Orang Medan, lebih khusus lagi orang Batak, kerap dianggap sebagai pribadi yang temperamental. Emosinya mudah naik, belum lagi nada bicara dan volume suaranya yang tinggi dan sangat terus terang. Perlukah dikendalikan?

“Kalau tidak berpikir panjang, saya bisa naik pitam saat bicara dengan keluarga suami saya,” ujar Lita, wanita Jawa yang menikah dengan pria Batak. Bagi Lita, bicara dengan nada tinggi dan volume keras, serta blak-blakan merupakan hal yang sama sekali ditentang dalam ajaran keluarganya.

“Kadang saya terpancing mau marah karena menganggap mereka tidak sopan kalau bicara. Tapi terus ingat lagi, oh ya mereka orang Batak. Habis, suami saya karakternya sudah seperti orang Jawa sih,” tambah Lita yang bertemu suaminya saat kuliah di Yogya itu.

Tapi jangan salah kira dulu. Nada tinggi belum bisa dijadikan patokan bahwa orang Medan atau orang Batak temperamental, kata sosiolog sekaligus antropolog dari Universitas Negeri Medan, Prof. DR. Bungaran Antonius Simanjuntak.

Nada tinggi yang biasa keluar dari mulut orang Medan biasa dijumpai pada orang Batak dari pegunungan, seperti daerah Samosir. “Karena di sana wilayah perkampungannya jauh-jauh, di daerah pegunungan pula. Sehingga mereka harus berteriak-teriak untuk memanggil. Tapi hatinya belum tentu keras, sehingga tidak terpancing emosinya. Apalagi yang sudah terdidik,” tutur Prof. Bungaran.

Atas dasar itulah hipotesa yang mengatakan orang Medan atau orang Batak itu temperamental baginya tidak benar. Hal senada juga dikatakan Dra. Mustika Tarigan. Dosen Psikologi Perkembangan di Fakultas Psikologi Universitas Medan Area. Nada tinggi memang menjadi karakter orang Medan, tapi nada tinggi tidak otomatis menjadi indikasi temperamental.

“Karakter mereka memang ekspresif. Dan cara mengekspresikannya sendiri lebih ekstrem, jadi terkesan emosional. Tapi tidak semuanya temperamental,” katanya. Ia maklum bagi orang dari daerah lain karakter seperti itu terkesan berlebihan.

Marah Itu Perlu
Temperamental merupakan keadaan yang terkait dengan emosi. Contohnya orang yang mengendarai mobil lalu mengumpat, “Kurang ajar!” setelah diserobot secara tiba-tiba oleh tukang becak, merupakan luapan dari emosi dalam bentuk marah.

“Ungkapan marah itu diperlukan, karena manusia bukanlah superman yang bisa mengemas diri semanis mungkin saat marah. Yang perlu diingat adalah, boleh marah tapi lihat ketupatnya,” tambah Mustika. Ketupat yang dia maksudkan adalah keadaan, waktu dan tempat. Perlu diperhatikan juga obyek kemarahan, kadar kemarahan, serta tujuan dari amarahnya itu sendiri.

Misalnya, orangtua yang marah kepada anaknya mempunyai tujuan baik, supaya anaknya menjadi baik. “Tapi ada juga yang untuk show off, menunjukkan bahwa dirinya punya power atau kekuasaan. Nah, itu tidak benar,” terangnya.

Nada Tinggi
Nada tinggi yang diidentikkan dengan cara bicara orang Medan tidak selalu bisa disamakan dengan kemarahan, walaupun perasaan marah orang Medan lebih banyak diekspresikan dengan nada tinggi dan bahasa tubuh yang terlihat jelas.

Di satu sisi nada tinggi yang ekspresif itu bisa membuat lega, enak, dan puas orang yang mengekspresikannya karena ’sampah’ yang berada dalam dirinya keluar. Tapi, seperti diakui oleh Dra. Mustika, dampaknya bisa membuat orang lain tersinggung dan tidak bisa menerima ekspresi amarah yang terlontar itu.

Belum lagi adrenalin orang yang bersangkutan juga akan naik. Apa akibatnya? “Ia akan cepat lelah. Makanya, orang yang marah itu akan capek karena energinya terkuras. Itu sebabnya untuk mendinginkan diperlukan minuman,” ucapnya.

Di masyarakat lain bisa jadi kemarahan tetap diekspresikan dengan nada lembut atau malah diam lalu meninggalkan orang yang membuatnya marah tadi. Menurut Dra. Mustika, “Diam atau escape sebentar dari amarah merupakan cara mengontrol amarah, dan baru dicetuskan kemudian bila situasinya bagus. Kita bisa bilang, ’saya kok jadi marah ya dengan sikap kamu’. Bukan dengan kata-kata, ‘kamu membuat saya marah’. Karena kalau begitu, kita menyalahkan orang lain.”

Perlu Dikendalikan
Bagaimana pun menekan amarah itu tidak bagus, kata Dra. Mustika, sedangkan yang benar adalah mengontrol atau mengendalikannya. Ia mengakui bahwa untuk mengontrol atau mengendalikannya tidak mudah, butuh waktu mempelajarinya.

“Apa boleh buat, kita harus mengelola emosi. Caranya bisa dengan banyak bergaul atau meminta feedback atau umpan balik dari orang lain. Lalu juga harus menyadari bahwa permasalahan tidak akan selesai dengan luapan emosi,” tutur perempuan yang juga bergerak di LSM Pusat Kajian Perlindungan Anak ini.

Mengapa orang Batak yang tinggal di Pulau Jawa misalnya bisa tidak seemosional yang di Medan? Jangan lupa faktor lingkungan yang turut mempengaruhi emosi.

“Komunitas atau lingkungan akan berpengaruh terhadap diri seseorang. Maka orang Medan yang telah banyak bergaul dengan masyarakat heterogen, emosinya juga lebih terkontrol.

Tapi siapa pun kita, jika mau marah sebaiknya pertimbangkan dulu baik buruknya supaya tidak membuat orang lain maupun diri sendiri sakit.

Ilustrasi: Tanto Weng-Senior

Sumber : (Diana Yunita Sari) Harian Kompas


Ada 10 tanggapan untuk artikel “Mengapa Orang Batak Temperamental?”

  1. Tanggapan Charly Silaban:

    Ya ya ya… semua patut baca tulisan ini hehehe..

  2. Tanggapan Erwin Rudianto Silaban:

    orang batak itu kalau marah gak musti teriak…maksud saya tidak semua orang batak itu kalau marah nada suaranya jadi tinggi.. dari beberapa orang batak yang akrab dengan saya, mereka kalau marah malah diam.. seribu bahasa..malahan teman saya yang orang solo kalau marah sama istrinya wah…… jarak 3 rumah suaranya masih kedengaran……
    kata orang sekitar saya “orang batak itu adalah orang-orang yang baik, rasa solidaritasnya tinggi..eit jangan GE-ER ( gede rasa )

  3. Tanggapan Jadimora:

    Bah imma tutu dah!

  4. Tanggapan NANDO NAINGGOLAN:

    memang kebiasaan orang kalau marah nada suaranya tinggi dan orang batak itu merupakan orang yang paling diakui untuk berbicara dimata umum,karena batak singkatan dari banyak taktik atau banyak akal.buktinya banyak orang batak yang menjadi pengacara handal dan diakui.

  5. Tanggapan MARDO SILABAN:

    kebiasaan orang batak itu untuk marah memang lumayan keras.namun juga dalam kemarahaanya itu hanya untuk menasehati atau ada kasih sayang kepada orang yang dimarahinya.
    dan saya setuju pendapat lae nainggolan tsb karena orang batak itu diakui dimata umum untuk berbicara buktinya banyak pengacara yang handal diindonesia.

  6. Tanggapan Maridup Hutauruk:

    Saya jadi teringat ungkapan seorang gubernur DKI terdahulu Ali Sadikin yang mengatakan, kira2 kalau tak salah “Berpikirlah seperti orang Batak, berbicaralah seperti orang Sunda, dan bertindaklah seperti orang Jawa”.

    Dalam sejarahnya Bangsa Batak sudah berhubungan dengan Bangsa Jawa semasa Majapahit dan Singosari, makanya ada garis keturunan etnis marga dari keturunan putri Majapahit yang orang Batak bilang Siboru Basopaet. Kalau dengan bangsa Sunda baru setelah jaman kemerdekaan ada hubungannya, walaupun semasa Armada Majapahit yang membawa para sakti orang Batak seperti Gajah Mada, Kuti (pinompar Raja Uti) sebagian ada terdampar di kawasan Lampung (lapung) yang keudian berhubungan dengan bangsa Sunda (Banten) tetapi hubungan kultural yang nyata barulah di jaman kemerdekaan ini.

    Dahulu orang-orang Batak di tanah leluhur (dataran tinggi) di supply garam hanya oleh pedagang2 Batak dari daerah pesisir, artinya ‘garam’ sudah menjadi sesuatu yang tak terpisahkan dengan orang-orang Batak. Garam dalam bentuk ‘ikan asin/gambas’ sudah menjadi komoditi pokok di Bonapasogit walaupun sering disebutkan dalam ungkapan bahasa merendah-diri, sementara di pangarantoan tidak akan klop kalau hidangan tidak disuguhi yang namanya ikan asin (salted fish). Jadi unsur garam sudah mengalir kental dalam darah orang-orang Batak.

    Pernah saya membeli sejenis setrikaan yang harus dipakai dengan media air dan ditambahkan garam. Sekelompok ibu-ibu PKK sari TOBASA beranjangsana ke pemda Subang untuk studi banding mendapat ilmu bahwa garam ditaburkan dulu kedalam minyak penggorengan untuk mendapatkan hasil keripik pisang yang gurih dan berwarna cerah (tidak marsalaon). Dari kajian ilmu pengetahuan ternyata garam dapat menjadi katalisator penghantar panas yang tinggi. Makanya kalau merebus sayur bening harus terlebih dahulu menaburkan garam ke air rebusan hingga cepat mendidih baru dimasukkan sayuran sekejap saja dan menghasilkan sayur matang yang berwarna hijau cerah mengundang selera.

    Oleh karena garam merupakan penghantar panas sementara darah orang Batak mengandung kadar garam yang tinggi maka apapun yang ada dipikirannya (otak) dengan sangat cepat telah sampai diujung lidah bahkan bibirpun tak kuasa lagi mengkatub dan keluarlah bahasa yang meledak-ledak itu.

    Yesus mengumpamakan dirinya sebagai ‘garam dan terang’. Orang-orang Batak sudah bermodalkan garam mengalir dalam darahnya dan mungkin hanya tinggal mengupayakan adanya ‘terang’ di dalam hatinya maka jadilah orang-orang Batak menjadi Yesus-yesus, dan damailah dunia ini.

    Studi banding antar desa-desa di Pulau Jawa dan di Bonapasogit bahwa di perkampungan batak hampir tak terlihat lampu listrik diluar rumahnya (teras & penerangan luar) dihidupkan maka desa-desa itupun ‘mangholom’ dan tak ada kegiatannya. Sementara desa-desa di Pulau Jawa, luar rumahnya terang benderang dan mereka melakukan kegiatan ekonomi dihalaman rumah didesanya pada malam hari dan tentu lebih makmurlah mereka.

    Maka mungkin perlu kita cermati bahwa istilah ‘Bersuara keras tapi berhati baik’ atau istilah ‘Berwajah Rambo tapi berhati Rinto’ jangan menjadi kebanggaan yang membuat terbuai tanpa introspeksi bahwa masih banyak yang harus diperbaiki oleh orang-orang Batak, baik secara individu, kelompok marga, komunitas keagamaan, menjadi bersinergi. Potensi yang sangat luar biasa dari orang-orang Batak tak perlu lagi disangsikan, karena hanya selangkah lagi saja yang kurang yaitu ‘kurang terang’ atau masih ‘mangholom’ yang mungkin karena voltasinya yang rendah sementara kapasitasnya sudah lebih dari cukup. HORAS

  7. Tanggapan Palti Martunas Silaban:

    menurut saya, orang batak itu memang mempunyai nada suara yang tinggi banget, liat aja banyak orang batak yang pandai menyanyi dan banyak banget yang eksis didunia musik contoh, Dipo Pardede, Charles Simbolon, Jack Marpaung, Juli Manurung, Joy Tobing, dll. Termasuk saya juga, suka banget yang namanya nyanyi. Jadi, orang batak bawaan suaranya yang tinggi gak semuanya yang temperamental, mungkin mereka dilahirkan sebagai penyanyi, pengkhotbah dll. Walaupun begitu bawaannya, orang batak itu baik-baik lho, lucu, bagak-bagak deyh. ehhmm,kita sebagai orang batak seharusnya bangga dilahirkan kedunia ini dengan begitu banyak kemampuan, keberanian, dan mental yang tinggi yang karena mungkin udah sering kena marah ama libas oleh bapak kita. He3x. Gak usah malu lah jadi orang batak. Jadi emang bener, setiap orang kalo marah pasti teriak-teriak, itu udah pasti. Orang batak tuh baik-baik kok. Udah dulu ya, cukup dari saya. Semangat bangso batakku… Horas ma dihita saluhutna… Haleluya…

  8. Tanggapan Togar Silaban:

    Argumentasi Prof. DR. Bungaran Simanjuntak diatas rasanya sulit diterima. Menurut Prof. Simanjuntak orang Batak bersuara keras karena tinggal di pegunungan yang saling berjauhan satu sama lain.
    Bagaimana dengan orang Jawa yang tinggal di kawasan kaki pegunungan Merapi, tapi mereka nada bicaranya pelan dan lembut. Bagaimana dengan orang Sunda yang tinggal di daerah Priangan, juga kawasan pegunungan, kampungnya juga saling berjauhan. Tapi suaranya tidak keras.
    Gimana itu Prof.??
    Temperamental berbeda dengan cepat marah,berbeda juga dengan suara tinggi.

    Cepat marah adalah pengendalian emosi yang rendah.Orang yang tidak bisa mengendalikan emosi diri sendiri biasanya diakibatkan karena persoalan lain, bukan kultur, bukan temperamental. Ada kaitannya dengan ketidakmampuan emosional. Mengapa demikian, bisa karena banyak hal.
    Karena itu saya sependapat dengan Erwin Silaban (2) yang bilang temannya kalau marah malahan diam seribu bahasa.

    Kita orang Batak jangan terlalu bangga kalau dibilang keras, temperamental. Tetap lebih baik, yang lembut, tegas (tidak keras), dan santun.
    Horas.

  9. Tanggapan BSimarmata:

    Dari pengalaman,saya mengambil kesimpulan yang agak berbeda dengan pendapat terdahulu.Kalau sesama orang Batak mengikuti satu rapat,apakah itu oleh Gereja HKBP atau perkumpulan marga,pasti akan rame.Pernah saya saksikan sendiri meja digedor-gedor dan kursi dilempar karena pimpinan sidang tidak memberinya kesempatan berbicara.Beda kalau ada rapat dinas atau pertemuan yang dihadiri berbagai kelompok,sehingga tidak homogen,banyak juga orang Batak menjadi pendiam.Mungkin merasa perlu mencari simpati dari peserta rapat.Harus kita akui,orang Batak ada modal cerdas dan berani,namun mencari simpati agak sulit.Kedepan orang Batak terutama yang beragama Nasrani,makin sulit maju,karena sekarang zaman pemilihan langsung,banyak faktor lain yang mempengaruhi.Mau tidak mau,kalau mau maju,kita orang Batak harus menyesuaikan diri.SIDAPOT SOLUP DO NARO.Pendatang harus menyesuaikan diri,dengan keadaan setempat.

  10. Tanggapan andre:

    Sebenarnya tidak semua orang batak yang tempramental. Kenapa ?
    Karena sebagian orang batak yang sudah tinggal dikota dengan kata lain asli lahir di kota besar sudah memiliki tingkatan adapitasi yang cukup baik. Mungkin orang batak yang memiliki tempramental tinggi ini biasanya orang batak pendatang dari desa yang suka berbicara dengan suara yang keras dan nada tinggi.

    Nah kalau orang batak yang sudah lahir di kota besar biasanya tidak seperti ini dan biasanya orang batak yang lahir diperkotaan sudah berbaur dengan masyarakat dari berbagai macam suku dan budaya, jadi sikap dan cara pandangnya serta cara berbicaranya pun sudah cukup jauh berbeda dengan orang batak yang dari pedesaan.

    Itu yang bisa saya tanggapi. Terima kasih.

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Pemilihan Ketua PDIP Diulang Dua Kali

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Gema IPhO-2002: Belia Bertalenta dan Alumni “Proyek Habibie”