Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
22
Jul '02

Sarah Silaban: Laguku adalah Anakku


Kahlil Gibran, dalam The Prophet boleh mengungkapkan filosofinya tentang anak dengan kalimat-kalimat seperti Your children are not your children…. They are the sons and daughters of lifes longing for itself… You may give them your love but not your thoughts, for they have their own thoughts…Namun, tetap saja banyak orang tua yang menginginkan anak-anak mereka menjadi seperti yang mereka kehendaki. Alasan para ayah dan ibu itu, mereka menginginkan masa depan yang cerah bagi anak-anak mereka.

Ayah Sarah Mauli Silaban pun demikian. “Papaku mau aku jadi wanita karir, corporate secretary, yang andal dan dipandang oleh semua orang,” cerita Sarah ketika berbincang-bincang dengan KCM, di rumah orang tuanya di kawasan Pondok Indah (Jaksel), pada Senin (22/7) pagi.

Untuk membekali anak sulung yang lahir di London (Inggris), pada 14 Desember 1976 ini, sang ayah memilihkan Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Maka berkuliahlah Sarah di sana pada 1995-1999.

Sesudah lulus dari Jurusan Sastra Inggris, pada 2001 ia mengikuti Program S2 Komunikasi Massa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di universitas yang sama. Saat ini ia akan masuk ke semester ketiga.

Ayahnya, kisah Sarah, melarangnya menjadi seniman musik. “Menurut Papaku, profesi artis musik enggak bisa jadi pegangan hidup, belum lagi hura-hura, pulang pagi,” papar putri S Silaban yang pensiunan Bank Indonesia (BI) dan Vera Siregar yang ibu rumah tangga ini.

Tapi, ungkap Sarah, minatnya untuk menyanyi, mencipta lagu dan bermain musik dengan instrumen piano, kuat dan tak terhentikan. Akhirnya, pada 24 Juni 2002, album perdananya, yang diberinya judul Akhirnya, dirilis oleh perusahaan rekaman BMG Music Indonesia.

***
Mau tahu asal bibit bermusik Sarah? Ya ayahnya itulah. “Papaku dulu sempat nge-band. Mungkin, karena dia tahu banget kayak apa anak-anak band, dia enggak mau aku nge-band,” tutur dara berkacamata ini.

“Di sebuah acara keluarga besar Papaku baru-baru ini, aku nyanyi dan main piano. Omku, kakak Papaku bilang, soal bermusik aku seperti Papaku. Kata omku lagi, anak enggak jauh-jauh dari orang tuanya, jadi biarkanlah kalau aku memang mau main musik,” sambung perempuan beradik satu (lelaki) ini.

Yang pertama kali mengakrabkan Sarah kecil dengan musik, ayahnya pula. Di rumah, ayahnya kerap memutarkan lagu-lagu klasik dan jazz. “Waktu itu aku enggak suka dua jenis musik itu,” aku Sarah yang sekarang menunjuk Smashing Pumpkins, Pearl Jam, Radiohead, The Verve dan Fiona Apple sebagai artis-artis musik favoritnya.

Di kelas 4 SD, ketika ia tinggal di Denpasar karena ayahnya bertugas di ibu kota Provinsi Bali tersebut, ayahnya mulai memasukkannya ke kursus piano klasik. “Papaku ingin aku bisa nyanyi dan main piano untuk gereja,” kenangnya.

Tapi, proses belajar main piano klasik tidak bisa instan, dan ayahnya ingin segera melihat ia bisa memainkan lagu-lagu. “Akhirnya, Papaku meminta pemain keyboard yang sering nge-band di acara-acara BI untuk mengajariku main piano untuk lagu-lagu pop,” ungkapnya.

Akibatnya, teknik bermain pianonya jadi acak-acakan –klasik bercampur pop. Guru piano klasiknya sampai marah.
Pindah ke Yogyakarta saat kelas 5 SD, Sarah melanjutkan ikut kursus piano klasik. “Guru piano klasikku di Yogyakarta juga bilang, teknikku kacau, harus konsentrasi ke klasik,” ceritanya. “Tapi, karena bosan, aku malah berhenti ikut kursus waktu kelas 3 SMP,” tambah Sarah yang tinggal di Jakarta sedari kelas 1 SMU.

***
Untuk album pop Akhirnya, Sarah hanya bermain piano untuk satu lagu, Ada. Sarah menyanyikan, serta mencipta komposisi dan menulis lirik delapan dari 10 lagu. Lagu-lagu itu, sebut saja Ya Sudahlah yang dipilih sebagai “lagu jualan” pertama, dan Sungguh yang pernah dibawakan oleh vokalis Tere untuk Lomba Cipta Lagu dan Penyanyi 1997 yang diadakan oleh Radio Prambors, Jakarta.

Dengan piano, Sarah mencipta lagu sejak kelas 5 SD. “Lagu pertamaku tentang rotasi benda-benda langit. Tapi, aku enggak punya catatannya. Aku bukan pendokumentasi yang baik. Sayang ya,” papar Sarah yang berencana segera mendaftarkan seluruh lagu ciptaannya yang telah dirilis ke Yayasan Karya Cipta Indonesia.

Tujuh dari delapan lagu karya Sarah dalam album pertamanya berkisah tentang cinta sejoli. “Mencipta lagu bagiku adalah sesuatu yang pribadi. Aku cuma bisa mencipta berdasarkan apa yang aku rasakan dan pikirkan,” ungkap Sarah yang juga menjadi produser musik untuk setiap lagunya bersama Jossie Hitijahubessy dari BMG Music Indonesia.

“Aku enggak bisa mencipta lagu berdasarkan pesanan. Jadi, kalau ada yang minta laguku, aku kasih yang sudah kucipta, seperti empat laguku yang dibawakan oleh Tere (dalam album Tere, Awal yang Indah),” lanjut Sarah yang ikut memilih para aranjer hingga pemusik yang dilibatkan dalam albumnya, seperti Tohpati, Adi Adrian dan Denny Chasmala.

Buatnya, lagu ibarat anak. “Laguku seperti anakku. Ada karena memang harus ada, enggak aku ada-adain,” jelas Sarah yang butuh sendirian ketika mencipta lagu.

Satu lagi, kendati ia berbicara soal cinta sejoli lewat lagu-lagunya seperti dilakukan oleh amat banyak pencipta lagu lainnya, menurutnya, “Laguku tetap lain, karena sifatnya personal.”

Sementara itu, sebagai vokalis, ia mendapat banyak bekal karena setia bergabung dengan paduan suara gereja di kota mana pun ia menetap. Dalam rangka menggarap albumnya, melalui empat pertemuan ia sempat belajar menyanyi dari dosen Institut Kesenian Jakarta Katherine Leimena, terutama mengenai teknik pernapasan.

Namun, akunya lagi, masih banyak kelemahan yang dilakukannya ketika ia menjalani rekaman pada akhir 2000-awal 2001. “Cara menyanyiku (sering memenggal suku-suku kata pada lirik lagu-lagunya) di albumku itu bukan gaya menyanyi, melainkan kebodohan. Sekarang aku sudah bisa menyanyi lebih baik,” papar Sarah, yang sejak minggu lalu hingga pertengahan Agustus 2002 di sejumlah kafe di Jakarta dalam rangka mempromosikan albumnya, sekaligus berlatih tampil menyanyi sambil main piano di depan publik.

***
Album Akhirnya, terang Sarah, untuk tahap pertama dilepas ke pasar 10 ribu kaset. Tapi, ia belum menerima informasi tentang angka penjualannya sampai saat ini.

Video musik lagu Ya Sudahlah, yang digarap oleh Miles Productions dan syutingnya dilakukan di sebuah toko musik di kawasan Pasar Baru, Jakpus, sebentar lagi akan ditayangkan. Tak lama lagi, CD-nya bakal dirilis.

Oleh BMG Music Indonesia, Sarah dikontrak untuk dua album, sejak Februari 2000. Ketika itu, ia memilih masuk ke industri musik dan batal mengambil gelar master bidang komunikasi massa di Royal Melbourne Institute of Technology, Australia. “Padahal aku sudah diterima di sana. Papaku sampai marah dan bilang terserahlah aku mau jadi apa,” tambahnya.

Adalah dua teman baiknya, David Samuel dan Candra Sitorus, yang membantu Sarah menjadi percaya diri untuk masuk ke industri musik. Bersama mereka, Sarah membuat rekaman percontohan berisi 10 lagu untuk diserahkan kepada BMG Music Indonesia pada 1999.

Kini, kata Sarah, semua yang ada di sekitarnya sedang memudahkan langkah-langkah awalnya di industri musik. Salah satunya, tapi yang utama, “Papaku, juga Mamaku, sekarang mendukungku,” tutupnya. Syukurlah… (Ati Kamil)

Pindah ke Yogyakarta saat kelas 5 SD, Sarah melanjutkan ikut kursus piano klasik. “Guru piano klasikku di Yogyakarta juga bilang, teknikku kacau, harus konsentrasi ke klasik,” ceritanya. “Tapi, karena bosan, aku malah berhenti ikut kursus waktu kelas 3 SMP,” tambah Sarah yang tinggal di Jakarta sedari kelas 1 SMU.

Sumber : Harian Kompas


Baru ada 1 tanggapan untuk artikel “Sarah Silaban: Laguku adalah Anakku”

  1. Tanggapan Okto Silaban:

    Wah.., mantap amang Charly.. pake Wordpress yah.., jadi mirip kayak situsku hhe.he..he

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Sarah Silaban Berekspresi lewat Lagu
Artikel selanjutnya :
   » » Jacob scolded over accusations