Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Senin
18
Feb '02

Perampok Spesialis Obat-obatan - Gunakan Senjata Api dan Seragam Polisi


Sepandai-pandai tupai melompat, pasti jatuh juga. Barang kali itulah perumpamaan yang pas bagi perampok yang berkedok polisi. Mereka sering bereaksi di Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Jalan Tol Padalarang dan Jalan Tol Serang. Rupanya, kelompok penjahat ini, mengkhususkan diri merampok obat-obatan. Asalkan itu diketahui obat-obatan, pasti disikat habis. Dari enam orang anggota bandit ini, tiga orang di antaranya kini mendekam dalam sel tahanan Polres Metro Bekasi. Ketiganya, ditangkap belum lama ini setelah polisi melakukan pengintaian cukup lama.

“Satu minggu pas saya jarang masuk kantor untuk melakukan pengejaran terhadap kelompok itu. Tetapi, yang mestinya keenam orang itu tertangkap. Karena banjir, hanya tiga yang tertangkap. Tiga lainnya sudah diketahui nama dan tempat persembunyiaannya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat tertangkap karena saya sendiri sudah pernah berkomunikasi melalui hand phone (HP). Tetapi karena lokasi persembunyiannya tergenang banjir di daerah Jakarta Utara, anggota saya tidak sanggup ke sana. Demikian juga pelaku tidak dapat keluar rumah karena banjir.”

Pengakuan jujur ini, dikemukakan Kasat Reserse Polres Metro Bekasi, Ajun Komisaris Didik Suyadi, ketika ditemui SH, Sabtu (16/2) saat akan merilis pengungkapan kasus tersebut.
Tiga pelaku yang kini ditahan, Morgan Silaban (32) penduduk Jalan Nusa Indah No. 47, Perumnas Helvetia Medan, Bernard Hutauruk (42) warga Jalan Pasar Citar I Kalideres, Kelurahan Citra I, Kecamatan Kalideres Jakarta Barat, dan Jenson Lubis (37), penduduk Perumahan Puri Cipegran Indah Blok A No. 201, Cimahi Bandung Jawa Barat. Mereka kini dalam pemeriksaan secara intensif di Polres Metro Bekasi.

Di hadapan petugas ketiga pelaku menyebutkan bahwa otak perampokan spesialias obat-obatan itu adalah Silalahi, Hutagalung dan Dayat. Ketiganya dalam pencarian polisi. Dari ketiga pelaku perampokan yang setiap kali beraksi selalu menggunakan seragam polisi, cukup banyak barang bukti yang disita. Di antaranya, sepucuk senjata api jenis FN, enam butir peluru, satu senjata pen gun berikut dua butir peluru, tiga stel pakaian dinas polisi berpangkat Briptu dan Bripda (tercatat atas nama Junaedi, Nugroho dan Pitono. Semuanya dari Polda Jabar)
.
Barang bukti lainnya berupa dua sangkur, dua topi polisi, dua sepatu laras panjang, dua kantong peluru, satu senter pangatur lalu lintas, dua plat nomor dinas polisi nomor Pol 1985-VII, tiga kopel rim dan sebuah mobil yang digunakan Daihatsu D-1094-DG. Menurut polisi, lelompok ini telah merampok truk obat-obatan empat kali. Di Jalan Tol Bintara Bekasi Barat, Jalan Tol Cikarang Kabupaten Bekasi, Jalan Tol Padalarang Bandung dan di Jalan Tol Serang Banten.

Mengenai senjata api FN yang selama ini digunakan, pelaku Jenson Lubis mengaku membelinya dari temannya bernama Hutagalung, seorang anggota Kostrad TNI yang berdinas di Medan, Sumatra Utara. Saat polisi menangkap tiga tersangka itu, senjata api disita dari tangan Morgan Silaban. Ketiga tesangka ini, setiap kali ditanya selalu mengelak dan menimpakan kesalahan kepada Hutagalung, Silalahi dan Dayat yang belum tertangkap.

Jenson Lubis menyebutkan, sarana seperti mobil termasuk pakaian seragam dan peralatan lainnya, merupakan tugas Hutagalung. Pakain seragam itu dibeli di sebuah toko di Bandung. Silalahi, bertugas menjual hasil jarahan. Morgan dan Bernard mengaku baru ikut satu kali merampok dan mendapat bagian masing-masing Rp 5.800.000. Sedangkan, Jenson mengaku dua kali ikut ambil bagian, dan beroleh pembagian dari hasil rampokannya Rp 10.800.000.

Gunakan Telepon Genggam
Kepada SH, Jenson Lubis menjelaskan, untuk mencari sasaran, mereka selalu menggunakan alat komunikasi telepon genggam. Dan jika sudah ada sasaran yang bakal disikat. Mereka yang sering bermarkas di Kantor Pos Jakarta Pusat, mulai menjalankan aksinya setelah sebelumnya sudah mengintai calon buruannya. Ketiga tersangka ini, juga tidak mengakui setiap kali beraksi, berapa hasil rampokannya dijual. Sebab, Silalahi lah yang bertugas menjual.

Kasat Reserse Didik Suyadi mengakui, selama empat kali kelompok penjahat ini beraksi dan sasarannya selalu obat-obatan, empat kali pula mereka menjual hasil jarahannya kepada seseorang bernama “Ma” di Serang Provinsi Banten. Terkadang, satu truk obat dijual Rp 60 juta, tetapi pernah dijual Rp 200 juta. Seperti hasil rampokan di Jalan Tol Cikarang Bekasi, obat-obatan milik PT Kimia Farma Bandung ini nilainya Rp 1,5 miliar tetapi kepada penadah yang hingga saat ini belum tertangkap, hanya dijual Rp 200 juta.

Dalam beraksi para pelaku selalu membawa sebuah kendaraan, terkadang mobil Toyota Kijang dan Daihatsu yang plat nomornya tak ubahnya plat nomor kendaraan dinas polisi. Warna kendaraannya pun disamakan abu-abu. Lalu, mereka memakai seragam polisi lengkap dengan tanda pangkat dan senjata api.
Tiba di lokasi sasaran jalan tol, mereka berhenti dan menyetop kendaraan korban yang selalu pengemudi truk. Korban yang melihat yang menghentikannya polisi, langsung berhenti. Dua atau tiga orang pelaku, keluar dari mobil dan menanyakan ‘DO’ serta surat jalan. Setelah mengetahui isi truk itu obat-obatan, langsung dijadikan sasaran.

Sopir dan kernet truk itu, diancan pakai senjata api dan senjata tajam. Lalu, dimasukkan secara paksa kedalam mobil pelaku, sedang kemudi truk diambil alih pelaku lainnya. Guna menghilangkan jejak, terkadang pelaku dibuang di jalan, seperti di daerah Subang, Jawa Barat dan Serang, Banten. Sedang truk bermuatan obat-obatan itu, langsung dibawa ke sebuah gudang di daerah Serang. Truk serta isinya, diserahkan kemada ‘Ma’, untuk selanjutnya dijadikan uang.

Setiap kali beraksi, sopir dan kernet selalu diikat tangan dan kakinya. Kemudian, mulut dan mata dilakban. Tak jarang para korbannya dianiaya jika melakukan perlawanan. Menurut pengakuan tersangka, belum pernah korbannya sampai dilukai atau dibunuh. Sebab yang perlu bagi kelompok ini adalah hasil rampokan tersebut bisa laku dijual.

Dari dua kali merampok di wilayah hukum Polres Metro Bekasi, kawanan ini juga selalu meninggalkan truk di jalanan di daerah Serang. Kelompok enam ini, tampaknya mengkhususkan diri untuk merampok obat-obatan, karena pemasaran dan penadahnya sudah jelas. Kasat Reserse Didik Suyadi mengatakan pihaknya kini tengah bekerja keras untuk mengungkap jaringan dan tiga pelaku lainnya, termasuk penadah obat-obatan yang bernilai miliaran itu.

Sumber : (SH/jonder sihotang) Sinar Harapan, Bekasi


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Polisi Bekuk Polisi Gadungan
Artikel selanjutnya :
   » » ‘Wartawan’ Kelabui Anggota CNI