Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Kamis
16
Agt '01

Nasib Anak Pengungsi - Terjajah di Negeri Merdeka


IA mengaku bernama Udin. Ia tak tahu nama lengkap yang pernah diberi orangtuanya. Udin, 10 tahun, bersama tiga saudaranya tinggal bersama ibu mereka di kompleks penampungan pengungsi Stadion Sultan Syarif Abdurrahman, Pontianak, Kalimantan Barat. Ayahnya, yang ia juga tak tahu namanya, tewas dalam rusuh Sambas dua tahun lalu.

Ketika rusuh sedang berkecamuk, Udin, seperti anak-anak Madura lainnya, juga bersiaga. ‘’Saya punya celurit,'’ katanya. Senjata tajam khas Madura itu selalu berada dalam genggamannya saat bersembunyi dengan ibu, kakak, dan dua adiknya. ‘’Saya sembunyi, tapi Bapak ikut perang,'’ katanya. Ketika tiba kabar ayahnya terbunuh, ibunya mengajak Udin dan saudara-saudaranya mengungsi ke Pontianak.

Udin amat menyesal karena ia harus berhenti sekolah. ‘’Ketika itu saya kelas dua,'’ katanya. Keinginan kembali bersekolah sangat besar, tapi belum terlaksana. Ia harus bekerja membantu ibunya mencari nafkah.

Selasa pagi pekan lalu, Udin berdiri di depan pintu gerbang kompleks Perguruan Mujahidin, Pontianak. Dengan pandangan kosong ia menatap murid-murid sekolah bermain di halaman sekolah. Tiba-tiba, seorang pria separuh baya menghampirinya. Ia menyodorkan dua lembar ribuan.

Dengan cekatan Udin mengambil uang, memberikan selembar koran pada orang itu. ‘’Ambil saja,'’ katanya, ketika Udin menyerahkan uang kembalian Rp 500. Sekilas Udin menatap wajah pembelinya. Ia kembali asyik melihat anak-anak sekolah yang sedang siap-siap masuk kelas.

Setiap hari Udin membawa sekitar 30 lembar koran terbitan setempat. Menjelang siang, Udin bersama anak-anak pedagang koran lainnya meninggalkan kompleks sekolah swasta terkenal di kota itu. Udin menuju pompa bensin di Jalan A. Yani, Pontianak. ‘’Seribu…seribu,'’ teriaknya setiap ada mobil mengisi bahan bakar. ‘’Kalau siang tiap lembar saya jual Rp 1.000,'’ katanya.

Dari setiap lembar koran yang laku, Udin menerima Rp 200. ‘’Uangnya untuk Mbu,'’ katanya. Yang ia maksud adalah ibunya. Tak semua penghasilannya diserahkan pada mbu-nya. ‘’Saya belikan satu layang-layang,'’ katanya. Bermain layang-layang bersama bocah pengungsi lainnya menjadi kesenangan Udin.

Bila malam tiba, tak berarti Udin punya waktu istirahat. Setelah magrib, Udin bersama Mudaki, kakaknya, mendorong gerobak kayu reyot, berkeliling ke berbagai tempat pembuangan sampah. Mereka mengumpulkan plastik bekas. Sekitar pukul 22.00 Wita, gerobak itu sudah penuh sampah plastik. Mereka berdua kembali ke penampungan pengungsi. Di ‘’tempat tinggal'’-nya, sudah menunggu Satuki, 46 tahun, pengungsi yang menjadi pengumpul barang-barang bekas.

Pagi berikutnya, Udin sudah kembali nongkrong di depan kompleks sekolah Mujahidin, Pontianak. Begitulah lakon Udin sehari-hari. ‘’Saya senang,'’ katanya pendek. Bagi Udin, bisa mencari uang sendiri menjadi kebanggaan. ‘’Uangnya untuk Lebaran nanti,'’ ujarnya. Kali ini seulas senyum tipis muncul di bibirnya yang kehitam-hitaman. Sambil sesekali menyeka ingusnya dengan lengan kemeja yang warna kremnya memudar, Udin hanya menjawab pendek setiap pertanyaan. ‘’Saya ingin sekolah lagi,'’ katanya.

Sekolah masih sebatas angan-angan bagi Udin. Hingga sekarang belum ada yang mengulurkan tangan. Nasib buruk seperti ini dialami pula oleh ribuan anak pengungsi lain korban rusuh Dayak-Madura.

Kondisi ini sangat memprihatinkan Raudlatul Ulum, 25 tahun, relawan yang mengurusi pengungsi di Pontianak. ‘’Mereka seharusnya sekolah. Tapi terpaksa ikut mencari nafkah,'’ katanya. Raudlatul khawatir, anak-anak pengungsi akan dijangkiti perasaan iri hati atau cemburu.

Gejala iri hati ini belum tampak pada Udin dan kawan-kawannya. Tapi, dalam perjalanan waktu, kekhawatiran Raudlatul bisa menjadi kenyataan. Sayangnya, Pemerintah Kalimantan Barat, yang terbelit cekaknya anggaran, tak berdaya. Pemda dan juga pemerintah pusat baru bisa sekadar menyediakan tempat penampungan dan makanan. Itu pun jumlahnya tidak memadai.

Tak mengherankan bila Udin lebih senang makan tenggeng alias ubi rebus. ‘’Nasi hanya untuk makan siang,'’ katanya. Tapi badan Udin tak kerempeng atau berperut buncit seperti gambaran umum tentang sosok anak-anak pengungsi. Badannya kekar untuk anak seumurnya. Tiap hari ia makan sayur atau ikan asin. ‘’Ibu jualan sayur di pasar Flamboyan,'’ katanya.

Kehidupan Udin dan ribuan anak pengungsi di Pontianak memang jauh dari normal. Toh, Udin tak benci dengan keadaannya. Keadaan lebih buruk justru dihadapi anak-anak korban kerusuhan yang masih tinggal di daerah bekas konflik itu, misalnya di Sambas.

Kondisi kejiwaan anak-anak dan pemuda di Kabupaten Sambas pascakerusuhan sangat mengkhawatirkan. Mereka tak lagi mengenal kata kompromi, sekalipun hanya terjadi konflik kecil di antara mereka. ‘’Mereka lebih ringan tangan dan terbiasa bermain senjata,'’ kata Makbullah, 29 tahun, pemuda asal Tebas, Sambas, Kalimantan Barat.

Sikap gampang marah itu sampai-sampai sudah dianggap lumrah oleh warga setempat. Saling hardik dan saling ancam lewat kata-kata kasar jamak didengar. Persoalan kecil bisa memicu perkelahian. Kata-kata ancaman seperti ‘’aku tikam kamu'’ atau ‘’aku ledakkan kepalamu'’ keluar dari mulut bocah-bocah dengan fasih, seperti mengucapkan kata ‘’terima kasih'’.

Mereka bukan hanya piawai berkata keras dan kasar, melainkan juga sangat terampil menggunakan senjata api jenis rakitan yang dikenal dengan nama booman. ‘’Senjata di tangan mereka tak ubahnya barang mainan,'’ kata Makbullah, alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1998. Pegawai Dinas Peternakan Kabupaten Sambas ini sangat prihatin terhadap masa depan anak-anak muda itu.

Anak-anak korban kerusuhan itu, menurut Eli Hakim Silaban, 35 tahun, akan mengalami trauma dan stres. Direktur Eksekutif Yayasan Perlindungan Hak Anak (YPHA) Pontianak ini mengatakan, trauma itu diakibatkan oleh kejadian-kejadian yang menakutkan dan berbahaya. ‘’Sangat berbahaya bila tak segera diatasi,'’ kata laki-laki bertubuh tegap ini.

Akibat paling buruk yang bisa terjadi pada anak-anak itu disodorkan Hamdi Muluk. Pengajar psikologi politik Universitas Indonesia, Jakarta, dalam tulisannya, Konflik dan Bahaya Ingatan Kolektif (GATRA, 30 Desember 2000), memaparkan, anak-anak korban kerusuhan bisa memiliki ingatan kolektif yang penuh dendam.

Ingatan kolektif itu, kata Hamdi, makin menumpuk jika anak-anak itu dibesarkan di tengah pertikaian. Mereka membawa rasa dendam akibat trauma konflik hingga dewasa. Bila penanganannya tak sungguh-sungguh, negeri merdeka ini akan melahirkan anak-anak yang terjajah oleh rasa dendam.

Tapi, menurut Eli Hakim, beban anak-anak korban rusuh yang dibesarkan di tempat pengungsian bukan berarti lebih ringan. Bagaimanapun, mereka sudah ‘’terlibat'’ konflik sebelum mengungsi. Terjunnya mereka ke dalam pertikaian terjadi karena beberapa sebab. ‘’Bisa dipaksa orangtua, atau keinginan sendiri sebagai tanda kebersamaan nasib,'’ katanya.

Situasi itu, masih kata Eli, diperburuk lagi dengan kurangnya perhatian orangtua. Nah, ini akan terus membangkitkan trauma dan dendam yang panjang. Jiwa mereka akan senantiasa terpengaruh hingga dewasa. ‘’Mereka bisa menjadi orang yang dapat dengan cepat bereaksi terhadap hal-hal yang berbau kekerasan,'’ kata Eli.

Tekanan terhadap anak-anak itu bertambah berat dengan adanya konflik di tempat penampungan. Tekanan itu berasal dari warga di luar barak, dan dari sesama pengungsi. Eli memberi contoh rencana Pemerintah Daerah Kalimantan Barat menempatkan pengungsi di Desa Tembang Kacang dan Sungai Asam, Kabupaten Pontianak.

Upaya relokasi ini ditanggapi dengan sikap berbeda-beda. Sebagian menyatakan setuju, lainnya menolak. ‘’Yang tak setuju mengintimidasi pengungsi yang menerima relokasi,'’ kata Eli. Tekanan dari dalam membuat mereka makin khawatir dengan munculnya konflik baru.

Pengungsi yang dulunya petani lebih suka pindah ke kawasan relokasi. Mereka yang bergerak di sektor jasa dan perdagangan bersikeras tetap tinggal di penampungan yang berlokasi di tengah kota. Pilihan itu bukan hanya menjadi milik orang dewasa. Anak-anak semacam Udin, misalnya, sudah berani bersikap.

Udin emoh dipindahkan. ‘’Saya lebih suka di sini,'’ katanya. Meskipun tidur berjejalan di gedung olahraga, Udin merasa tak terganggu. Apalagi ia belum pernah bekerja di kebun atau sawah. Ditambah dengan ‘’bisnis'’ jualan korannya sudah mulai lancar.

Sikap Udin tak mengherankan Eli Hakim. ‘’Anak-anak juga punya kekuatan dalam diri mereka,'’ katanya. Mereka bukanlah sosok yang tak berdaya. Cuma, tak semua anak mampu menggunakan kekuatannya untuk bertahan dari stres dan trauma.

Kemampuan untuk bertahan ini dalam ilmu psikologi disebut resiliensi. Inilah yang membuat anak-anak dapat bertahan walau dalam keadaan darurat. Eli Hakim mencontohkan Udin. Dalam situasi tegang di penampungan, ia dan sejumlah teman sebayanya dengan gembira bermain layang-layang. Tapi, keceriaan itu dapat lenyap dengan tiba-tiba bila mereka kembali disinggahi trauma yang dialami.
[Edisi Khusus Gatra Nomor 39 Beredar Senin 13 Agustus 2001]

Sumber : (I Made Suarjana & Chandra Ibrahim) Gatra Online, Pontianak


Baru ada 1 tanggapan untuk artikel “Nasib Anak Pengungsi - Terjajah di Negeri Merdeka”

  1. Tanggapan Eli Hakim Silaban:

    Horas.

    Saya baru tahu, kalau interview saya dengan Chandra Ibrahim (Alm) wartawan Gatra pada tahun 2001 sehubungan dengan anak-anak korban kerusuhan sambas yang ada di Pontianak ada di posting di sini.

    Cool.

    Mauliate.

    Eli Hakim Silaban, S.H

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Nelayan Meradang, Nelayan Menjadi Korban
Artikel selanjutnya :
   » » Oknum Satgas PDIP Medan Pukul Saksi di Persidangan