Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
5
Agt '01

Nelayan Meradang, Nelayan Menjadi Korban


ABDUL Jalil, nelayan muda berumur 26 tahun ini seperti biasanya, hari itu Senin (30/7) sekitar pukul 17.00 berangkat melaut bersama kakaknya, Arifin, dan pamannya, Mondan. Mengendarai pukat sondong atau pukat songko, mereka berangkat dari Pantai Kuala Batu Bara, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Asahan. Pukat sondong sebenarnya sejenis pukat harimau, hanya saja cara beroperasinya tidak dengan ditarik, tetapi didorong ke depan.

Lewat tengah malam, cuaca sangat gelap karena langit mendung, hujan hampir tiba. Saat tengah memukat, tiba-tiba mereka melihat empat kobaran api di kejauhan. “Saya bilang itu ada orang demon (demonstrasi-Red), ayolah angkat galah,” lanjutnya.

Ketika tengah mengangkat galah, tiba-tiba kilat menyambar sehingga terlihatlah kapal Jalil oleh kawanan penyerang yang menggunakan kapal motor berukuran sekitar tiga kali delapan meter. Kapal tersebut dipenuhi sekitar 40 orang yang membawa berbagai senjata tajam, seperti sabit, samurai, kapak, maupun balok kayu.

Setelah merapatkan kapal, para penyerang mulai membacok dari samping kapal. Jalil pun segera meloncat ke laut, sedangkan abangnya Arifin, dan pamannya Mondan tidak ikut melompat ke laut. “Enggak tahu kenapa, abang saya tidak mau melompat ke laut, kalau Pak Cik saya (paman-Red) tidak bisa berenang,” katanya.

Jalil pun langsung menyelam dan menjauh dari kedua kapal tersebut sehingga lolos. Setelah muncul di permukaan, dari kejauhan ia melihat kapalnya telah dibakar. “Saya terus saja berenang menuju pantai,” katanya.

Kurang lebih pukul 05.00, Jalil baru bisa mencapai tepi Pantai Perupuk. Tenaganya habis setelah berenang selama kurang lebih lima jam. “Tenaga saya habis untuk berenang, sampai di rumah saya sudah tidak bisa jalan,” katanya. Ketika ditemui Kompas di Pasar Kerang Tanjung Tiram, Sabtu (4/8), Jalil masih berjalan dengan terseok-seok.

Esoknya, mayat Mondan ditemukan dalam keadaan terikat dengan luka bacok di kepala, bahu, dan punggung. Sedangkan mayat Arifin ditemukan dengan luka bakar di sekujur tubuh. “Abang saya badannya melepuh terbakar, sementara jaket yang dipakainya telah hangus,” tutur Jalil pelan.

***

NASIB serupa dialami Burhanudin (30). Malam itu, ia melaut bersama adiknya, Rizal (22), dan kakaknya, Jumari (40). Saat tengah melaut dalam kondisi yang gelap karena mendung, tiba-tiba saja dalam jarak beberapa meter sudah muncul satu kapal motor berukuran sama dengan kapal yang menyerang Jalil. Kapal itu langsung menabrak kapal Burhanudin. Para penyerang lalu berloncatan ke kapalnya. “Tanpa berkata, salah satunya langsung memukul dan mau membacok, saya pun segera meloncat ke laut dan menyelam diikuti Rizal,” katanya.

Burhanudin berenang menjauh bersama Rizal selama kurang lebih 2,5 jam lamanya. Namun, Rizal yang telah cedera dihantam balok pada mata kiri dan bahunya mulai kehabisan tenaga. Ketika sudah mendekati pantai, dengan kedalaman air laut tinggal sekitar 1,5 meter, tenaga Rizal benar-benar telah habis. Ia pun tenggelam.

Nasib naas juga dialami Jumari yang tidak ikut terjun ke laut karena tidak bisa berenang. Esok harinya, ia ditemukan tewas tenggelam dalam keadaan terikat.

Malam berdarah itu akhirnya menewaskan sembilan nelayan. Namun, nama kesembilan nelayan tersebut masih simpang siur, antara keterangan korban selamat, ataupun aparat berwenang baik polisi maupun Lantamal I Belawan. Hal itu terjadi karena banyak nelayan yang lebih dikenal keluarganya dengan nama panggilan.

Data sementara yang diperoleh Kompas dari juru bicara Lantamal I Belawan Lettu Laut M Asri Arief, kesembilan korban tewas adalah Iwan, Ijang, Kadir, Hamdan (kemungkinan ini adalah Mondan, paman Jalil-Red), Syarizal, Komarudin, Jumari, Abdul, dan Suhari.

***

MENURUT Syahrial, korban lain yang selamat, ada sembilan kapal pukat sondong yang diserang. “Tujuh kapal berhasil ditemukan kembali dalam keadaan rusak, terbakar sebagian, sedang dua lagi tidak berhasil ditemukan,” katanya.

Saat ini, polisi telah menangkap empat tersangka, yaitu Ja (44), SJ (39), Is alias Ma (22), dan JE alias Jun (27). Semuanya penduduk Desa Gambus Laut, Kecamatan Limapuluh, Asahan.

Dari beberapa nelayan di Tanjung Tiram yang tidak mau disebut namanya, penyerangan tersebut telah salah sasaran. Sebenarnya yang dituju para penyerang adalah pukat harimau (trawl) yang selama ini beroperasi di tepi laut sehingga membuat nelayan tradisional tidak mendapatkan ikan sama sekali. “Biasanya pulang bisa membawa tiga puluh ribu, sekarang sama sekali tidak dapat ikan,” katanya. Secara tidak langsung, hal itu dibenarkan Kasim YH dan Bachtiar Effendi, pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cabang Asahan saat ditemui Kompas di Tanjung Tiram.

Sementara itu, Direktur Operasional Lembaga Pemantauan dan Pembelaan Masyarakat Indonesia (LPPMI) Indra menyatakan, peristiwa memilukan tersebut terjadi akibat Bupati Asahan Risuddin tidak cepat tanggap. Dijelaskan, Risuddin telah membuat kesepakatan tertulis dengan Serikat Nelayan Sumatera Utara (SNSU) pada tanggal 26 Januari 2001 bahwa pemerintah akan konsekuen dan konsisten melaksanakan Keppres Nomor 39 Tahun 1980 mengenai pembatasan ruang gerak pukat harimau dan sejenisnya.

Selanjutnya, tanggal 30 Juli 2001, pukul 13.00 masyarakat juga telah menyerahkan berkas pengaduan keganasan pukat harimau yang diterima bupati lewat Kabag Perekonomian Bindu Silaban. “Jika saat itu bupati tanggap, peristiwa itu tidak akan terjadi, jangan hanya tangkap nelayan kecil, tapi juga usut kenapa pukat harimau bisa beroperasi,” katanya.

Menurut Kasim, pihaknya sudah capek mengadukan keganasan pukat harimau kepada bupati maupun DPRD. “Namun, tidak pernah ada kesungguhan untuk membuat aturan pembagian daerah operasi nelayan yang sudah ditetapkan pemerintah sungguh-sungguh bisa berjalan,” katanya.

Akibatnya, bentrok antarnelayan sering terjadi. Di Sumatera Utara sendiri tercatat sudah berkali-kali terjadi bentrokan antarnelayan yang menelan korban jiwa. Di Tanjung Tiram, ironisnya, bentrokan terjadi antarsesama nelayan kecil. Sekalipun pukat sondong ini sejenis pukat harimau, tetapi pukat sondong yang menjadi korban adalah pukat kecil. Paling banyak bisa diawaki empat orang. “Saya setiap pulang paling membawa tujuh sampai delapan kilogram udang. Jadi, setiap hari rata-rata paling berhasil membawa Rp 20.000,” ujar Burhanudin.

Sampai hari ini, suasana Tanjung Tiram masih mencekam. Nelayan-nelayan kecil belum berani melaut. “Lima hari ini untuk makan anak-anak terpaksa kita pinjam ke kedai,” tutur Syahrial.

Sumber : (Ardhian Novianto) Harian Kompas


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Atrium blast related to earlier bombings: Police
Artikel selanjutnya :
   » » Nasib Anak Pengungsi - Terjajah di Negeri Merdeka