Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Jumat
3
Nov '00

Direktur TUN MA [Direktur Tata Usaha Negara Mahkamah Agung] Jadi Tersangka Kasus Suap


Tim Penyidik Gabungan Pemberantasan Korupsi (TGPK) menetapkan, Direktur Tata Usaha Negara (TUN) Mahkamah Agung (MA) Zainal Agus sebagai tersangka karena diduga menerima suap dalam rangka memenangkan perkara di MA. Kasus ini didasarkan pada laporan dari seseorang kepada TGPK yang menyatakan Zainal berjanji akan membantu mengurus perkara permohonan Peninjauan Kembali (PK) Nomor 03 Tahun 1997 yang diputus oleh MA pada bulan Desember 1999.

Demikian penjelasan Humas TGPK MH Silaban, Sekretaris Jenderal MA Pranowo, dan Direktur Pidana MA Djoko Sarwoko secara terpisah di Jakarta, Kamis (2/11). Namun, Silaban tidak bersedia menjelaskan secara rinci berapa jumlah uang yang diduga telah diterima tersangka. Ia menyarankan untuk menanyakan hal itu kepada MA. Silaban hanya mengatakan bahwa pejabat MA yang berinisial ZA telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus suap di MA.

“Ada seseorang yang melaporkan ke TGPK. Ia mengaku memberikan sesuatu kepada ZA, dan ZA berjanji akan mengurus perkara tersebut. Ya, mungkin maksudnya agar kasusnya menang. Kalau kemudian dia melapor ke TGPK, tentunya karena merasa dirugikan. Setelah kami memeriksa saksi pelapor, kami anggap sudah cukup alasan untuk menetapkan ZA sebagai tersangka,” kata Silaban ketika dihubungi Kamis malam.

Sebagai tindak lanjutnya, TGPK memanggil tersangka untuk diperiksa dalam rangka penyidikan. Namun, tiga kali dipanggil, yang bersangkutan tidak datang tanpa alasan yang sah. Karena itu, TGPK memutuskan untuk mengambil langkah berupa upaya paksa dengan menjemput tersangka. Hari Rabu lalu, jaksa menjemput paksa tersangka untuk diperiksa oleh TGPK.

Ikut dampingi

Kepada Kompas dan The Jakarta Post, Pranowo dan Djoko mengakui bahwa Direktur TUN MA yang bernama Zainal Agus pada hari Rabu dijemput oleh jaksa untuk diperiksa oleh
TGPK. “Itu bukan penangkapan, tetapi Pak Zainal dihadapkan ke jaksa (pemeriksa)
dengan paksa. Saya ikut mendampingi Pak Zainal ketika diperiksa di Kejaksaan Agung,” kata Djoko.

Kasus yang disangkakan oleh TGPK terhadap Zainal tersebut menyangkut putusan MA atas permohonan PK atas suatu kasus Tata Usaha Negara. Kasus ini ditangani oleh Majelis Hakim Agung yang diketuai Th Ketut Suraputra (pejabat Ketua MA) dengan anggota Soeharto dan Iskandar Kamil. Baik Pranowo maupun Djoko tidak bersedia menjelaskan soal kasus itu. “Tanya saja ke TGPK,” kata mereka.

Menurut Djoko, Zainal tidak pernah berniat mengabaikan panggilan TGPK. Ketidakdatangan Zainal semata karena TGPK tidak memenuhi persyaratan formalitas dalam memanggil seorang hakim tinggi dalam rangka penyidikan. Karena Zainal seorang hakim tinggi, maka sebagaimana diatur dalam Pasal 26 UU Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum, terlebih dulu TGPK harus minta izin dari Ketua MA dan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Tanpa adanya izin tersebut, Zainal tidak bisa diperiksa.

Pasal 26 UU No 2/1986 berbunyi, Ketua, Wakil Ketua, dan hakim pengadilan dapat ditangkap atau ditahan hanya atas perintah Jaksa Agung setelah mendapat persetujuan Ketua Mahkamah Agung dan Menteri Kehakiman.

Menurut Silaban, undang-undang itu hanya berlaku untuk proses penangkapan dan penahanan. Sementara yang dilakukan TGPK adalah pemanggilan dalam rangka penyidikan. “Kami, kan, tidak melakukan penangkapan dan penahanan. Karena itu, kami lakukan upaya paksa karena ZA tidak memenuhi panggilan kami. Panggilan pertama dijawab ZA di Makassar. Pemanggilan kedua dijawab Mahkamah Agung bahwa ZA enggak boleh diperiksa karena alasan penetapan tersangka belum jelas,” paparnya.

Sumber : (ika) Harian Kompas


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.