Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Rabu
25
Okt '00

Teater Anak-anak - Suara Anak Masa Depan di Pontianak


DAVID Glass telah menghasilkan karya tunggalnya selama lebih dari 18 tahun di lebih 40 negara, dibawa British Council, ke Indonesia (17 Oktober hingga 4 November nanti).

“Sebenarnya David tidak pernah mengunjungi sebuah negara berturut-turut, namun karena ketertarikannya pada Indonesia, ia bersedia hadir kembali ke Indonesia,” kata James Hollington manager seni dan humas British Council dalam jumpa pers di Kapuas Palace, Pontianak, Selasa (24/10).

Rangkaian kegiatannya bertajuk ‘Suara Anak Massa Depan.’ Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran lokal, nasional dan internasional terhadap keadaan anak-anak akibat konflik internal yang terjadi di Indonesia.

Selain itu, menguatkan pemahaman terhadap inti konvensi PBB mengenai hak-hak anak, serta memperkenalkan pluralisme dan tantangan stereotip kelompok etnis, terutama di Kalimantan Barat.

“Kami melihat, nasib para pengungsi saat ini terabaikan, pemerintah masih sibuk dengan urusannya sendiri,” kata Eli Hakim Silaban dari Yayasan Perlindungan Hak Anak, yang juga koordinator lokal untuk kegiatan British Council di Kalimantan Barat.

David Glass, 42 tahun, sejak awal meniti karir sangat tertarik dengan dunia anak. “Kreatifitas mereka murni,” kata alumnus London Contemporary Dance School itu. Ia juga lama di Paris, telah menghasilkan serta mempertunjukkan lebih dari 30 karya.

Ia akan mengadakan pertunjukkan teater anak pada 29 - 30 Oktober mendatang. “Semua ide cerita berasal dari anak, kami dan 6 anggota tim hanya menstimulasi daya kreativitas mereka,” kata pendiri David Glass Ensamble tahun 1989 itu.

Sejumlah 50 anak yang berasal dari berbagai kelompok marjinal, diajak bermain dengan gambar, bermimpi, menari, bercerita dan melakukan aktivitas lain yang sesuai dengan jiwa dan semangat anak-anak.

“Kami berharap, anak-anak bisa melupakan sejenak masalah yang dihadapinya, terutama para korban yang saat ini masih ditampung di kamp pengungsian,” tambahnya.

Ketika ditanya, apakah kegiatan ini bertujuan menumbuhkan semangat rekonsiliasi, David menyatakan pertujukannya tidak diarahkan ke sana. “Seni bukanlah solusi rekonsiliasi,” katanya.

Pada musim gugur 1997, ensamble-nya menghadirkan The Lost Child Trilogy, sebuah produksi bersama internasional yang menceritakan anak yang tersesat. Tiga tahun belakangan ini, mereka telah bekerja di lebih dari 15 negara, termasuk Vietnam, Cina, Filipina, dan Indonesia tahun 1999 dan 2000.

Rangkaian kegiatan yang memadukan karya seni budaya dan program hak-hak asasi manusia ini, garapan British Council bekerjasama dengan Keduataan Besar Inggris di Indonesia.

Save the Children Fund, Child’s Eye, dan beberapa LSM di Kalimantan Barat, ini tidak hanya menampilkan seni geraknya David Glass, tapi juga menggelar pameran hasil karya anak-anak, yang dimotori Jonathan Perugia, dari Child’s Eye Indonesia.

Sumber : (gatra.com/candra)  Gatra Online, Pontianak


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.