Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
14
Okt '00

Penggemar Sate Sapi Pak Oo, dari Vina hingga Tinton Soeprapto


Pak OoBILA petang tiba, Royani (60) warga Kampung Pulo Kelurahan Babakan Pasar Bogor Tengah, Kota Bogor, mulai memasang tenda dibantu dua orang keponakannya, Herman dan Apud. Mereka siap-siap berjualan sate sapi di ujung Jalan Lawang Seketeng yang masuk lewat dari Jalan Suryakencana. Di tempat inilah Royani setiap malam meneruskan usaha yang dirintis ayahnya almarhum Rosyid sejak 60 tahun lalu.

Oleh para pelanggannya Royani akrab dipanggil Pak Oo. Nama akrab itulah yang kemudian dipertahankan sebagai merek dagang sate sapi “Pak Oo” yang sangat tersohor di Kota Bogor.

Warung tenda sate sapi “Pak Oo” itu bisa dibilang satu-satunya warung sate sapi di Kota Bogor, di tengah membanjirnya warung tenda selama tiga tahun terakhir, seperti terlihat sepanjang Jalan Raya Pajajaran atau Jl Panglima Sudirman, Bogor. Puluhan warung tenda umumnya berjualan sea food, ayam goreng, pecel lele, soto, sate kambing, dan lain-lain.

Sate sapi “Pak Oo” menu santapan malam di Kota Bogor ini, senantiasa dikunjungi pelanggan setianya setiap malam. Mereka umumnya datang sekali dua kali dalam sepekan untuk menikmati sate sapi “Pak Oo”. Jika Anda pernah dengar penyanyi yang beken dengan sebutan Si Burung Camar alias Vina Panduwinata, asal tahu saja dia beserta keluarganya adalah penikmat sate sapi Pak Oo.

“Kalau sedang ke Bogor, Vina kadang-kadang datang menikmati sate sapi,” kata Royani, Kamis (12/10) malam. Mereka yang sudah pindah dan tinggal di luar Kota Bogor juga sering menyempatkan diri datang ke Bogor cuma untuk menikmati sate sapi Pak Oo.

Bahkan Royani dan Herman, keponakannya yang bertugas membakar sate menyebutkan, pembalap Chandra Alim dan teman-temannya termasuk Tinton Suprapto juga salah satu pelanggannya. “Dulu tahun 1960- an, Pak Silaban (maksudnya
F Silaban, arsitek terkenal yang tinggal di Bogor
) dan Pak Sabur (maksudnya Komandan Resimen Cakrabirawa, pasukan pengawal almarhum Presiden Soekarno) acapkali beli sate untuk ke Istana, dan katanya Bung Karno juga suka menikmati sate sapi,” kata Royani mengenang masa lalu ketika waktu masih membantu kakaknya, Rodjai.

***

PERJALANAN sebagai pedagang sate sapi selama 60 tahun tidak selamanya mulus. Tenda Royani tercatat pernah tujuh kali karena tempat mangkalnya terkena peremajaan Pasar Bogor. Dia juga pernah digusur tim penertiban Pemerintah Daerah (Pemda) Kota Bogor. “Tempat ini merupakan lokasi ketujuh kali saya berjualan meskipun lokasinya tak strategis,” katanya.

Karena sudah dikenal, pelanggan setia Royani selalu datang menikmati sate sapinya. “Saya lega dan tetap bertahan sepanjang tahun,” katanya. Royani mengatakan, kunci untuk tetap bertahan sehingga tetap disenangi pelanggan setianya adalah dengan memberikan pelayanan yang baik dan menjaga kualitas hidangannya.

Royani menyebutkan, dulu ayahnya tiap petang pada tahun 1940-an berdagang sate sapi dengan pikulan berkeliling di Bogor. Setelah kakaknya yang meneruskan usaha ayahnya pensiun karena tua, Royani mengambil alih usaha itu sekitar tahun 1980-an.

Sejak krismon omzetnya menurun, setiap hari kini dia hanya bisa menghabiskan 3-5 kilogram daging sapi atau cuma sepertiganya saat sebelum krismon. Satu kilogram daging seharga Rp 27.000 itu bisa dijadikan sekitar 100 tusuk sate, dengan harga Rp 600 per tusuk. Setiap malam dia bisa menjual 300-500 tusuk sate sapi.

Meski omzetnya merosot, semangat Royani tak ikut merosot untuk berjualan sate sapi. Bukan karena tidak mau kalah dengan para elite politik yang terus berdagang sapi, namun karena dia harus terus menyambung hidup keluarganya. Lagi pula sate sapi Royani sudah telanjur menjadi khas Bogor.

Sumber : (FX Puniman) Harian Kompas


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Drop probe into justices: Court
Artikel selanjutnya :
   » » BPPN Kalah Lagi - Perseroan Telah Bubar Tidak Dapat Dinyatakan Pailit