Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Minggu
31
Jan '99

Mayor Bayu Divonis 6 Tahun - Dipecat dari ABRI


Tamatlah karier Mayor (Inf) Bayu Najib (40) di ABRI. Dan Yon 113/JS Bireun, Korem-011/Lilawangsa ini, dijatuhi hukuman enam tahun penjara serta dipecat dari dinas militer TNI-AD atas kesalahannya menganiaya tahanan sipil di Gedung KNPI Aceh Utara, 9 Januari lalu. Putusan ini lebih berat dua tahun dari empat tahun yang dituntut oditur.

Keputusan majelis hakim Mahkamah Militer Tinggi (Mahmilti)-I Medan yang bersidang di Banda Aceh, Sabtu, dibacakan Hakim Ketua Kol Kowad (CHK) Sri Umi Sularsih, SH, dua tahun lebih berat dari tuntutan oditur Kol (CHK) S Elgin, SH.

Majelis hakim dalam surat keputusan setebal 25 halaman yang dibacakan sekitar 70 menit menguraikan, terhukum terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal 170 ayat (1) yunto ayat (2) ke-1 KUHP.

Sidang pembacaan keputusan majelis hakim yang dipimpin Kol Kowad (CHK) Sri Umi Sularsih dimulai pukul 08.00 WIB dan berakhir pukul 09.20 WIB, tetap mendapat pengamanan ketat dan disaksikan belasan orang pengunjung sipil.

Selama Hakim Ketua membacakan vonisnya, Mayor Inf Bayu Nadjib yang berdiri dengan sikap sempurna di depan persidangan, terlihat gelisah dengan wajah tegang dan beberapa kali menggaruk-garuk telinga dan menyapu wajahnya. Sehingga Hakim Ketua beberapa kali pula menanyakan apakah terdakwa merasa penat? dan dijawab “Siap, tidak,” ujar Bayu Nadjib.

Ketika Hakim Ketua menyampaikan keputusan bahwa ia dihukum enam tahun penjara dan dipecat dari dinas militer, tubuh terdakwa terlihat bergetar dan matanya berkaca-kaca menahan sedih dan penyesalan. Ketika petugas POM membawa keluar persidangan dan menempatkannya di ruang tunggu, di tempat itu terpidana tak kuasa menahan kesedihannya.

Sejumlah wartawan yang meliput sidang, ketika diberikan kesempatan wawancara, terpidana Bayu Nadjib benar-benar menumpahkan penyesalan atas perbuatannya. Dengan nada bergetar ia mengatakan, “Tolong sampaikan permintaan maaf saya kepada masyarakat Aceh dan keluarga korban, saya sangat menyesal sekali atas ketelanjuran di Gedung KNPI itu. Saya tak berniat yang tidak-tidak, saya hanya ingin anak buah saya itu dapat,” ujarnya lirih. Ucapan maaf itu berulang-ulang disampaikannya dalam kondisi sangat terguncang, Bahkan air matanya terlihat berlinang menahan sedih.

Ketika ditanya wartawan apakah Mayor Bayu Nadjib tahu sewaktu melakukan pemukulan tahanan, bahwa ABRI kini sudah reformasi? “Saya tahu, dan saya menyesali ini semua. Karena maksud saya ke Gedung KNPI hanya untuk mencari informasi tentang keberadaan anak buah saya yang tujuh orang dibunuh dan satu orang belum dapat. Sekarang ini, informasinya sudah dapat, kalau tidak salah tiga hari lalu sudah ditemukan dalam keadaan tidak utuh lagi. Kepalanya tidak ada, tangannya tidak ada.”

Terhukum yang menjadi anggota ABRI tahun 1985 melalui pendidikan AKABRI, dan memulai kariernya sebagai Dan Ton di Batalyon 147 Semarang, dan tahun l997 pindah ke Aceh sebagai Kasdim 0103 Aceh Utara dan setahun terakhir sebagai Pelaksana Harian Komandan Batalyon 133/JS di Biruen, diajukan ke Mahmilti 16 Januari lalu. Ia tampil di persidangan dengan mengenakan pakaian militer lengkap atributnya, di ampingi penasihat hukum Kapten (CHK) J Silaban, SH.

Peristiwa penganiayaan penduduk sipil yang ditahan tim operasi “Wibawa-1999″ terjadi sejak sekitar pukul 11.00 WIB hingga menjelang pukul 19.00 WIB, ketika. Tahanan berada di gedung KNPI mengikuti proses pemeriksaan oleh anggota Polres Aceh Utara yang mengenakan pakaian preman, dan diawasi oleh Kapolres Aceh Utara Letkol Pol Drs Iskandar Hasan.

Terdakwa masuk ke dalam gedung KNPI melalui pintu samping dan bersamaan dengan itu, masuk 30 orang prajurit ABRI antara lain dari Yonif 113/JS, dan 13 orang di antaranya dikenali saksi-saksi, ikut memukuli, menendang bahkan ada yang memukul dengan popor senjata M 16 pada tahanan yang sedang menunggu giliran diperiksa petugas polisi, dan korban menjerit kesakitan.

Terdakwa melihat sejumlah prajuritnya memukuli tahanan, tapi tidak melarangnya. Karena emosi, Bayu Nadjib juga ikut memukuli sedikitnya tiga tahanan yang tidak berbaju dengan menggunakan kabel listrik panjang 1 meter berdiameter 1 centimeter yang dilipatduakan, mengakibatkan tubuh tahanan luka-luka dan terkapar. Akibat pemukulan itu, Kapolres Aceh Utara memerintahkan terdakwa dan prajurit yang tidak berkepentingan keluar dari gedung KNPI.

Hakim berpendapat, bahwa perbuatan terdakwa dan prajurit ABRI yang menganiaya tahanan dilakukan secara terang-terangan dengan tenaga bersama, terbukti dan meyakinkan. Mahkamah juga melihat, selama persidangan tidak menemukan alasan pemaaf dan pembenaran terhadap perbuatan terdakwa, sehingga ia harus dipidana.

Pada amar putusannya, mahkamah menilai, perbuatan terdakwa pada hakekatnya merupakan pelampiasan rasa kesal, marah dan dendam terdakwa atas terbunuhnya tujuh anak buahnya akhir Desember l998. Yang tidak dapat diterima, perbuatan terdakwa ini, terjadi pada saat ABRI sedang giat-giatnya melaksanakan reformasi. Khususnya dalam penegakan hak asasi manusia dan penegakan hukum, sebagaimana yang berulangkali telah ditegaskan pimpinan ABRI pada setiap kesempatan.

Berlanjut

Ka Pomdam I BB Kolonel CPM Suprapto, seusai sidang vonis Bayu kepada Serambi mengatakan, untuk 22 anggota ABRI lainnya, dari berbagai satuan yang terlibat penganiayaan tahanan di Gedung KNPI pada saat berbuka puasa hingga tewasnya empat tahanan dan puluhan luka berat, proses pemeriksaannya telah selesai dilakukan petugas POM di Lhokseumawe. Bahkan berkas perkaranya juga telah dilimpahkan ke oditur militer di Banda Aceh.

Namun, oleh Oditur Militer mengembalikan berkas perkara tersebut dan meminta kepada petugas POM supaya berkas perkaranya jangan disatukan seluruhnya. “Saya sudah perintahkan supaya ke 22 terdakwa yang akan di Mahmilkan itu supaya dibuat empat atau lima berkas, sesuai dengan keinginan oditur. Bulan Februari mendatang, semua terdakwa sudah bisa disidangkan di mahmil Banda Aceh,” kata Ka Pomdam.

Menurut Kolonel CPM Suprapto, ia juga sudah memberikan petunjuk kepada anggotanya, agar dalam pemberkasan pemeriksaan terdakwa dan saksi-saksi benar-benar diarahkan kepada korbannya. Agar, dalam persidangan nanti fakta keterlibatan anggota itu benar-benar dapat dibuktikan.

Sumber : (kan/zr/serambi) Banjarmasin Post, Banda Aceh


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.