Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
28
Sep '91

Hak kumpul istri


Pt. lusangmining melarang para buruhnya berkumpul dengan istri. kades lebongtandai dan kantor depna- ker bengkulu protes. perusahaan tambang emas ter- sebut terlambat menyediakan perumahan.
Buruh tambang emas di Bengkulu dilarang berkumpul dengan istri. Ada yang dipecat karena nekat pulang untuk “kumpul istri”.

NASIB buruh lebih sering malang ketimbang senang. Kalau toh upahnya sudah lumayan, ada saja perkara yang membuat mereka susah. Seperti yang dialami oleh para buruh pertambangan emas milik PT Lusangmining di Bengkulu. Mereka dilarang “berkumpul” dengan istrinya kecuali pada saat cuti, yang diberikan paling lama 21 hari dalam satu tahun.

Peraturan ini dijalankan dengan ketat. Para pekerja itu dilarang keluar dari kawasan perusahaan. Sedangkan para istri dilarang masuk areal pertambangan. Maka, sekitar lima ratus orang buruh yang sudah berkeluarga tak bisa menemui istrinya untuk menunaikan kebutuhan biologis. Yang membangkang mendapat sanksi berat.

Akibatnya, sudah puluhan karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) gara-gara nekat berkumpul dengan istrinya. Misalnya saja tiga sekawan Linton Siahaan, Edyson Silaban, dan Suhardi. Mereka dipecat gara-gara dianggap tak disiplin, sering mangkir. “Saya mangkir sesekali karena tak tahan kebutuhan batin ini,” katanya polos kepada Marlis Lubis dari TEMPO. Belum lagi beberapa orang seperti Poltak Nainggolan dan Yurman, yang akhirnya mengundurkan diri karena tak kuat berpisah dengan anak istrinya.

Yang sedikit mengharukan adalah pengalaman seorang buruh bernama Bambang, 27 tahun. Dua bulan lalu ia sakit. Istrinya tentu saja menengok, ia nekat masuk tanpa izin. Malang, mereka kepergok, Bambang lantas diskors. Ia mencoba protes, akibatnya malah dipecat.

Masalah larangan “kumpul istri” ini ternyata berakibat panjang. Kebetulan perusahaan pertambangan ini menguasai seluruh areal Desa Lebongtandai di Kecamatan Ketahun, Bengkulu Utara. Akibatnya, pemerintahan desa Lebongtandai boleh dibilang terhenti karena 30% dari 900 karyawan perusahaan itu penduduk lokal. SD setempat juga kehabisan murid, cuma 20 anak yang tinggal. Itu pun terdiri dari anak-anak para kepala bagian. Mereka ini tak terkena larangan membawa istri ke kompleks pertambangan.

Itu sebabnya Kepala Desa Lebongtandai, Johansyah, ikut angkat protes atas kebijaksanaan yang dinilai tak manusiawi itu. Sekalipun seluruh wilayahnya sudah dikuasai perusahaan pertambangan, “Lebongtandai masih berstatus sebagai desa,” kata Johansyah.

Sebenarnya, dari Kantor Departemen Tenaga Kerja Bengkulu Utara sudah ada reaksi. Kepalanya, S. Panjaitan, akhir Juli lalu sudah minta agar manajer Lusangmining mencabut larangan bagi keluarga pekerja untuk memasuki areal pertambangan.

Padahal, akar persoalan sebenarnya sepele. Perusahaan terlambat menyediakan perumahan untuk pekerja golongan rendah. Ini, menurut juru bicara Lusangmining, Drs. H. Piere Wiradilaga, disebabkan oleh kondisi perusahaan yang masih berat. “Produksi menurun akibat kadar emas yang ditambang terus melorot,” katanya. Meskipun demikian, perusahaan sekarang sedang berupaya secepatnya untuk menyelesaikan pembangunan rumah sederhana dua tingkat yang akan mampu menampung 540 buruh kelas bawah.

Sementara pembangunan itu belum selesai, perusahaan lantas memberlakukan status lajang untuk para buruh itu. Keluarga juga diminta tak masuk ke lokasi, karena ini dianggap daerah kerja. Untuk itu, setiap buruh mendapat kompensasi “pisah istri” Rp 15.000 sebulan.

Sebelumnya, para pekerja boleh pulang mengunjungi keluarga dengan angkutan lori. Namun, setahun belakangan ini izin kunjungan itu dihapus, kecuali mereka yang cuti enam bulan sekali, yang belakangan diubah menjadi dua bulan sekali. “Pisah istri” lah ternyata yang menjadi biang ribut-ribut.

Sumber : (YH) Majalah Tempo, Edisi. //28 September - 04 Oktober 1991


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Kembali ke masa lalu
Artikel selanjutnya :
   » » Godaan jin botol