Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
22
Sep '84

Masa lalu tak selalu pas



Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Simposium di tim membahas masalah identitas arsitektur indonesia, dan perkawinan arsitektur lama dengan yang baru.(ilt)

SEKARANG kembali para arsitek mempersoalkan identitas Indonesia pada arsitektur di masa kini. Problem sejak 20 tahun lalu ini belakangan menjadi aktual lagi, antara lain karena banyak bangunan pemerintah mencoba mengkongkretkannya. Misalnya dengan memaksakan atap bangunan tradlsional nongkrong di atas sebuah bangunan baru - yang belum tentu merupakan jalan keluar, dan belum tentu bagus.

Pekan lalu sebuah simposium berjudul “Peranan Identitas Kebudayaan dalam Arsitektur” diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pembawa makalah, Prof. Udo Kultermann dari Universitas Washington dan Prof. Jan Pieper dari Fachhochschule, Aachen. Juga wakil dari dua kelompok kerja: Ikatan Arsitek Indonesia dan Direktorat Tata Bangunan.

Udo Kultermann kendati tak seluruhnya menyalahkan juga mempertanyakan ikhtiar tempel-menempel itu. “Identitas budaya sebenarnya tidak perlu berwujud penempelan ornamen-ornamen, tapi hadir secara keseluruhan,” ujar guru besar dalam bidang arsitektur itu.

Menurut Kultermann, sebuah bangunan bisa saja dihiasi berbagai ornamen tradisional. “Tapi itu sama sekali tidak menjamin, sebuah bangunan bisa mencerminkan identitas budaya,” katanya “today tS today.” Namun, Udo Kultermann segera meluruskan pendapatnya, menempelkan ornamen atau mengambil struktur bangunan lama bukannya jelek. Ini semacam gaya atau inspirasl yang bisa memperkaya. Dan bila arsiteknya mahir, hasilnya pun akan baik. Kultermann menunjuk karya-karya Almarhum Suyudi antara lain Sckretariat ASEAN di Jakarta dan kedubcs Indonesia di Kuala Lumpur sebagai perkawinan antara arsitektur baru dan lama yang baik. “Berusaha menunjukkan bangunan Indonesia, tapi yang utama rancangannya baik,” ujar Udo tentang karya-karya Suyudi.

Arsitek Suwondo B. Sutedjo, yang juga pembicara dalam simposium itu, membenarkan bahwa menempelkan corak bangunan tradisional memang lagi ramai. “Sekarang ini ada keinginan kuat dari daerah untuk menyatakan identitas daerah dalam bangunan-bangunan,” ujarnya Caranya, menurut arsitek itu, hampir sama di seluruh daerah, yaitu mengolah bentuk-bentuk tradisional itulah. Lebih jauh Suwondo menyebutkan polapola yang populer, yaitu mengolah bentuk atap misalnya bentuk atap joglo pada pelabuhan udara internasional Cengkareng.

Suwondo berpendapat, Indonesia memang kaya dengan khazanah bentuk arsitektur dari masa lalu. “Tidak mengherankan bila penyelesaian masalah identitas dipecahkan secara visual dengan berkiblat pada peninggalan masa lalu,” kata arsitek yang juga dosen FT UI itu.

Atap tradisional memang sudah lama dianggap ciri Indonesia. Selain bentuknya yang unik juga dianggap menjawab masalah iklim tropis yang banyak hujan - bentuk atap bangunan tradisional di berbagai daerah umumnya lebar dan besar. Pada awal pendidikan arsitektur di Indonesia, seorang guru Belanda, Van Romond, sudah menganjurkan hal itu.

Tapi tidak otomatis penerapan atap besar itu menaikkan mutu bangunan di Indonesia. Ternyata, tidak banyak arsitek yang mampu mengolah atap sebaik Suyudi - lebih banyak yang justru merusakkan bangunan. Suwondo menunjuk contoh, gedung DPRD Medan yang mengambil bentuk atap rumah tradisional Batak. “Skalanya saja tidak cocok,”katanya menganalisa hal yang paling prinsip dalam dunia arsitektur.

Dalam argumentasinya, Suwondo melihat bahwa masalah arsitektur di masa kini, sama sekali lain denan masalah arsitektur masa lalu. “Bentuk-bentuk arsitektur masa kini hendaknya bersumber pada usaha memecahkan masalah yang kini dihadapi,” katanya. “Bukan cuma pelestarian bentuk tradisi saja yang perlu dipikirkan, tapi juga manusia Indonesia yang terancam perlu diselamatkan katanya lagi.

Sebagai contoh kongkret arsitek itu mengutarakan kehidupan di masa lalu, yang umumnya terisolasi, sementara di masa kini Indonesia merupakan persimpangan berbagai kekuatan asing dalam bentuk modal dan tenaa ahli - paling tidak. “Semua ini, jelas, tak dapat diatasi dalam skala bangunan per bangunan, api skala tata kota, bahkan strategi budaya,” katanya. Identitas meman sering kali disalahtafsirkan sebagai suatu “ormulasi”, padahal yang sebenarnya identitas adalah “produk” suatu perkembangan sejarah yang mengandung berbagai pemikiran dalam menghadapi tantangan zaman. Sejarah yang kaya dengan gambaran ikatan sosial adalah indikator penting dalam menganalisa identitas. Dari sejarah yang sudah tersusun rapi bisa diperkirakan- bentuk identitas.

DALAM hal ini, baik Suwondo maupun beberapa arsitek lain mengakui sejarah arsitektur Indonesia masa kini belum tersusun. Maka, kedudukan arsitektur tradisional dalam perkembangan masa kini pun jadi tidak jelas. Namun, sejarah arsitektur Indonesia masa kini barangkali memang masih pendek. Ada yang berpendapat, hendaknya dimulai dan perkembangan arsitektur masa penjajahan, sementara Suwondo beranggapan hendaknya dimulai dari arsitek-arsitek Silaban dan Darsono - titik tolak pun masih mengundang perdebatan.

Dari salah kaprah itu bisa disimpulkan: identitas tak perlu terlalu dicari-cari. Bila dipaksakan malah bisa berbahaya. Beberapa arsitek memberi contoh, tindakan gubernur Jawa Tengah, Ismail, yang memaksakan atap ioglo bertengger di bangunan-bangunan baru, bisa mengancam perkembangan. Memilih-milih adalah sikap tidak sehat, sementara yang dibutuhkan eksplorasi bentuk dalam ikhtiar menjawab berbagai masalah lingkungan.

Sekelompok arsitek dari Tim AT-6, dalam wawancara mengutarakan, kendati serimg kali memikirkan masalah identitas, tidak terlalu mencari-cari ketika merancang bangunan. Padahal, Padang Golf Rawamangun, Jakarta, karya mereka, diakui para arsitek sebagai hasil rancangan yang sangat baik.

Dengan wujud denah yang berbentuk huruf S yang patah-patah sangat kelihatan bangunan Padang Golf itu dirancang dengan memperhatikan iklim. Atap limasan yang memiliki sisi curam dan overstek yang cukup lebar mengingatkan struktur bangunan tradisional. Tapi sistem pencahayaan alami yang dipasang di bagian atap itu terang bukan mencari identitas, melainkan usaha memasukkan berbagai faktor alam ke dalam bangunan.

“Waktu merancang, tak terpikir mengaitkannya dengan arsitektur tradisional,” ujar Adhi Moersid dari Tim AT-6, sambil menjelaskan, ruang-ruang terbuka yang mirip joglo dimaksudkan agar alam muncul lebih akrab. “Hujan ya terlihat sebagai hujan, angim ya angin, malam ya malam, dan pagi akan terasa sebagai pagi,” katanya lagi.
Sumber : Majalah Tempo,  Edisi. 30/XIV/22 - 28 September 1984


Baru ada 1 tanggapan untuk artikel “Masa lalu tak selalu pas”

  1. Tanggapan kokok:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    kok ga ada fotonya

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Irama kolom dan ruang Silaban

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Vonis Jos, Sekadar Hiburan?