Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
26
Mei '84

Irama kolom dan ruang Silaban


Silaban, meninggal dunia pada usia 72 tahun, arsitek masjid istiqlal yang dekat dengan bung karno. karya-karyanya penting bagi perkembangan arsitektur indonesia. (ilt)

KEINDAHAN arsitektur sejati sudah mulai tersusun dari rencana pembagian tanah dan rencana denah, walaupun belum kelihatan bentuk arsitektur segaris pun,” tulisnya pada sebuah majalah arsitektur. Penulis itu Friedrich Silaban, arsitek terkenal di Indonesia yang 14 Mei lalu tutup usia pada usia 72 tahun.

Silaban, begitu ia lebih dikenal, seperti tampak pada tulisannya, ternyata memiliki konsepsi dan sikap yang jelas dalam dunia arsitektur. Sikap-sikap ini kurang umum diketahui - bisa jadi karena publikasi arsitektur sangat sedikit. Karena itu, ia lebih banyak dikenal sebaai arsitek yan dekat dengan Bung Karno, dan arsitek Masjid Istiqlal. Padahal, sedikit lebih dalam dari sekedar tenar, ada keperintisan yang patut disimak pada karya-karyanya yang mestinya penting bagi catatan perkembangan arsitektur di Indonesia. Kendati keperintisan itu tak perlu diartikan sebagai membangun sesuatu gaya atau kecenderungan. Konsepsi yang utuh dan gamblang sudah terbilang “mahal” dan langka di Indonesia.

“Rencana pembagian tanah dan penentuan letak gedung,” tulisnya, masih pada majalah arsitektur itu, “menentukan nasib arsitektur gedung yang bersangkutan.” Kedudukan gedung memang penting bagi Silaban. Bukan hanya sebagai awal perencanaan, tapi lebih penting lagi sehubungan dengan rencana tata kota dan lingkungan sekeliling. Karena itu, dalam menetapkan kedudukan sebuah gedung, Silaban selalu memperhitungkan kedudukan gedung itu terhadap garis edar matahari - yang disebutnya mempengaruhi pencahayaan - dan lalu lintas sekeliling.

Dalam hal interior, arsitektur ruang dalam, Silaban selalu mengaitkan gedung dengan fungsinya. Ia percaya bahwa sebuah gedung berhubungan erat dengan kehidupan “organis” di dalamnya. Maka, denah dianggapnya peka menangkap faktor-faktor fungsi yang sudah ditetapkan lebih dulu, misalnya cara kerja dan gerak manusia di dalam gedung yang direncanakan.

Arsitek kelahiran Tapanuli Utara ini dikenal keras mempertahankan tata letak yang ditetapkannya. Pernah suatu kali ia diminta merencanakan Gedung Kejaksaan Agung di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan. Rencana yang dibuatnya gigantik, besar dan megah: gedung dengan areal yang luas di sekitarnya. Gubernur DKI, ketika itu Sumarno, tak setuju, dan minta agar ruang kosong di sekitar gedung diperkecil agar bisa didirikan bangunan sekolah - sekarang SMA Bulungan. Silaban berkeras. Dan, karena tak ada kesepakatan, ia mogok tak mau meneruskan perencanaan gedung.

Ruang kosong - tak hanya di luar gedung - agaknya bagian penting konsep Silaban. Ir. Hatmadi Pinandojo, yang mengenal Silaban sejak arsitek ini berusia 40-an tahun, menyebutkan, ruang kosong pada karya-karya Silaban sebagai “ruang terbuang” yang sengaja dibuat. “Saya kira, ini justru ciri arsitektur Indonesia,” ujar Hatmadi, arsitek yang kini menjabat Dekan Arsitektur Lanskap Universitas Trisakti, Jakarta. Maksudnya, ruang kosong itu seperti “pendopo” dalam rumah-rumah tradisional kita.

“Ruang terbuang” meman dominan di banyak karya Silaban. Yang paling nyata pada Masjid Istiqlal: ruang tengah di bawah kubah yang dikelilingi balkon. “Ruang ini dapat memberi kesan megah,” ujar Hatmadi.

Memang, kemegahan adalah sisi lain dari bangunan-bangunan buatan Silaban. Overstek, balkon, tritis yang lebar. Deretan pilar vertikal. Dan kaki-kaki pilar yang kosong. Semua unsur bangunan itu pada karya-karya Silaban direncanakan untuk membangun kesan megah. Pada hampir semua bangunan rancangannya, paduan unsur itu bisa dilihat. Pada Gedung Pola, Taman Makam Pahlawan Kalibata sebelum dipugar, Markas Besar Angkatan Udara, Masjid Istiqlal, dan Bank Indonesia Cabang Gambir, Jakarta.

Tapi, memang, kehadiran unsur-unsur itu tidak selalu otomatis membentuk kemegahan. Sebab, besarnya gedung sering kali sangat berpengaruh. Yang pasti, agaknya, tritis yang lebar dan pilar-pilar dengan kaki kosong memberikan kesan konstruksi yang kekar. Ini bukannya tak disengaja. Siliban, konon, pengagum Luigi Nervi - seorang, insinyur sipil Italia yang mampu menggubah struktur sederhana menjadi bentuk yang artistik.

Selain itu, menurut Hatmadi, lewat kolom-kolom padat dan ruang, kosong Silaban berupaya menampilkan permainan cahaya, antara lain dengan memanfaatkan efek bayangan. Pada Masjid Istiqlal dan Bank Indonesia Cabang Gambir, permainan cahaya itu memang segera terlihat. Karena itu, Haryo Sabrang, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia, sedikit mengesampingkan kesan megah dan monumental pada karya-karya Silaban. Deretan kolom, kelebaran overstek dan balkon, menurut Haryo, merupakan perhitungan yang mudah dibaca efeknva - yang sudah tentu bukannya buruk.

Overstek, tritis yang lebar, menurut Haryo, karena Silaban memperhitungkan konsep lingkungan setempat. “Karena Indonesia termasuk negara tropis, Silaban sangat memperhatikan faktor-faktor hujan, panas, dan angin berikut konsekuensinya,” ujar arsitek itu.

Deretan kolom-kolom adalah prototip desain yang dipujikan Haryo Sabrang untuk bangunan di negeri tropis. Selama menjadi pelindung sorotan matahari, deretan kolom itu berfungsi mengatur aliran udara dan angin dengan sistem ventilasi menyilang. “Faktor-faktor alam yang tak menyenangkan diatasi secara arsitektonis,” ujar Haryo tentang ciri-ciri bangunan buatan Silaban. Friedrich Silaban dinilai Haryo sebagai arsitek yang lugas, efisien, dan menekankan fungsi. Karena itu, karya-karya Silaban agak jauh dari membangun kesan monumental. Sebab, menurut Haryo, kesan human pada bangunan Silaban sering kali kalah.

Cinta kemegahan pada diri Silaban kemungkinan besar didapat dari Bung Karno. Mereka berkenalan di rumah pelukis Indo-Sunda, Ernest Dezentje. Sejak itu, Silaban senantiasa menjadi kawan bicara dan konsultan presiden pertama RI itu dalam hal arsitektur, seni patung, dan monumen.

Sayang, kepekaan Silaban tentang efek monumental tampaknya kurang. Ia agaknya menafslrkan kesan monumental dengan suatu wujud “besar” Contoh yang paling tampak tentunya Masjid Istiqlal. Contoh lain, desain kaki patung di seantero Jakarta: Patung Pembebasan Irian Barat, Patung Selamat Datang di muka Hotel Indonesia, dan Patung Dirgantara di Pancoran, Jakarta. Kaki-kaki patung itu hampir setinggi bangunan. Padahal, kesan monumental tak senantiasa identik celengan bentuk besar. Dalam hal patung, kesan itu sering kali didukung oleh rinci-rinci dan ekspresi patung.

Alhasil, patung-patung di Jakarta itu yang dibuat oleh pematung Edhi Soenarso malah kehilangan rinci sama sekali. Lekuk-lekuk dan ekspresi patung tak tampak karena “ditempatkan” jauh di angkasa. Yang muncul hanya kaki patung tipis yang menjulang tinggi dengan siluet hitam di atasnya.

Sumber : Majalah Tempo, Edisi. 13/XIV/26 Mei - 01 Juni 1984


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Meninggal dunia Friedrich Silaban
Artikel selanjutnya :
   » » Masa lalu tak selalu pas