Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
16
Okt '82

“Tukang Pungut” Berubah Nama


Untuk mengubah citra bp3 yang sudah telanjur muncul sebagai tukang pungut, kini dibentuk pomg (persatuan orang tua murid dan guru), sebagai pengganti bp3. (pdk)

PARA orang tua murid sering mengeluh karena banyaknya pungutan di sekolah. Dan BP3 atau Badan Pembantu Penyelenggaraan Pendidikan yang dibentuk sejak 1974 di setiap sekolah biasanya mengumpulkan dana tersebut. Tapi di banyak sekolah, walaupun ada berbagai keberatan, sumbangan BP3 cukup besar–biasanya untuk membiayai keperluan yang tak bisa dipenuhi oleh anggaran resmi.

BP3 SMA Negeri 111 Yogyakarta, misalnya, membantu membangun pagar seharga Rp 5 juta, BP3 SMA Negeri I Medan menyumbang sebuah mushola senilai Rp 10 juta, di samping 400 bangku dan 60 meja. sP3 PPSP IKIP Malang bahkan membangun sebuah ruang sekolah lengkap dengan peralatannya seharga Rp 30 juta. Belum lagi untuk membantu pembiayaan kegiatan ekstra-kurikuler seperti latihan olahraga dan kesenian.

Banyak pungutan itu kadang-kadang melanggar peraturan, tidak arang pula dijadikan semacam syarat bagi penerimaan murid baru, atau kenaikan kelas. Pendeknya, citra BP3 sudah telanjur muncul sebagai “tukang pungut”, sementara perhatian terhadap anak didik dari organisasi yang terdiri dari para orang tua murid tersebut dianggap kurang. BP3, misalnya, hampir tak pernah ikut membantu menyelesaikan kasus perkelahian anak-anak sekolah.

Citra BP3 seperti itu kini agaknya mau diperbaiki dengan membentuk POMG (Persatuan Orang tua Murid dan Guru), sebagai penggantinya. Gagasan POMG tersebut muncul dalam pertemuan tatap-muka BP3 seluruh DKI Jakarta dengan Menmud Urusan Pemuda Abdul Gafur (10 Mei 1980), kemudian lahir instruksi bersama Menteri P&K serta Mendagri, supaya dilaksanakan mulai Oktober ini untuk DKI, sbelum diterapkan di seluruh Indonesia.

Berbeda dengan BP3, keanggotaan POMG selain orang tua murid dan guru, juga kalangan masyarakat setempat “yang bersedia membantu sekolah”. Yang lebih menarik ialah penjelasan instruksi tersebut bahwa dengan pembentukan POMG, pemerintah tidak ingin membebani keluarga dan masyarakat, terutama orang tua murid, dengan bermacam-macam pungutan.

Meskipun begitu, POMG tidak dilarang menerima sumbangan dari orang tua murid yang mampu asal berdasarkan musyawarah. Sumbangan harus berdasarkan program yang jelas, tidak ditentukan jumlah minimum dan maksimum. Selain itu sumbangan tidak dijadikan syarat untuk penerimaan murid dan kenaikan kelas.

Selain organisasi tingkat sekolah, dibentuk pula Tim Koordinasi POMG tingkat kecamatan, kota dan DKI. Jadi diharapkan masalah pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, masyarakat dan pemerintah.

M. Silaban, Kepala SMA Negeri IV, Medan, menyambut gembira pembentukan POMG. “Selama ini dana yang dikumpulkan oleh BP3, penggunaannya tidak bisa dicampuri oleh aparat sekolah. Sekarang dengan POMG diharapkan kontrol terhadap penggunaan dana itu bisa lebih kecut.” Itu suatu contoh tiadanya kerja sama.

Kesan buruk BP3 hanya sebagai “tukang pungut” ternyata tidak muncul di (sekolah laboratorium) PPSP IKIP Jakarta. Selama ini BP3 di sana menjalin hubungan yang aktif antara guru dan orang tua murid.

“Bagi kami penggantian BP3 menjadi POMG hanyalah perubahan nama belaka. Sebab apa yang diharapkan dengan pembentukan POMG, selama ini sudah berjalan di PPSP,” kata Hamzah Busroh, Kepala Sekolah Menengah di PPSP IKIP Jakarta. Di situ setiap bulan diadakan pertemuan antara BP3 dan pimpinan PPSP, dan diterbitkan pula .Surat Berita, yang antara lain melaporkan kepada orang tua murid keadaan keuangan, hal penerimaan dan pengeluaran dana

Sumber : Majalah Tempo, Edisi. 33/XII/16 - 22 Oktober 1982


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Meneropong bukti di bawah laut
Artikel selanjutnya :
   » » Dari “Interior” Para Arsitek