Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
30
Mei '81

Marsiadu siborong-borong



Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Balap kuda batak di siborong-borong, balap gaya batak ini unik, lucu dan kacau. muncul lagi setelah absen puluhan tahun. ternyata banyak penggemarnya. (ils)

PETANG itu, ribuan penonton telah tak sabar menanti mulainya marsiadu hoda. Mereka ingin cepat menyaksikan satu pacuan kuda yang sejak puluhan tahun lalu tak pernah muncul lagi di tanah Tapanuli. Karena itu tak heran, jika sejak pagi arena pacuan sudah dipadati penonton dari berbagai penjuru Sumatera Utara.

Gubernur Sum-Ut, Tambunan, ada di antara penonton di lapangan Siborong-borong (Tapanuli Utara) itu. Bahkan tangannya telah mencekal bendera start, siap memberi aba-aba. Tapi beberapa joki yang masih kaku berada di tas punggung kuda, ditambah tingkah hewan-hewan pacuan itu, rupanya lebih memperlambat acara pada 21 Mei 1981 itu.

Akhirnya bendera pun dikibaskan. Semua kuda berlari. Tapi banyak yang berpacu di luar race (jalur). Seekor kuda yang bernama Barumun dengan joki Tumpak Sihombing, 33 tahun, bahkan hampir menyepak beberapa penonton. Tumpal kemudian mengangkat kedua kaki depan kudanya tinggi-tinggi untuk menyelamatkan penonton. Namun yang terjadi, Tumpak Sihombing terlempar dari punggung kudanya. Joki yang telah mempunyai pengalaman 14 tahun itu mengalami cedera. Hidungnya berdarah.

Kecelakaan lain, terus terjadi. Kuda Si Arung yang baru berusia 24 bulan, melemparkan joki Sudiman, 12 tahun, dalam perjalanan ke finish. Arung terpeleset ketika melintasi tempat berpasir. Sudiman yang masih duduk di SLTP, baru sekali itu jadi joki. “Saya baru satu kali belajar menunggang kuda,” ujar Sudiman, “kemarin.”

Siborong-borong adalah kota kabupaten di Tapanuli Utara, 278 km dari Kota Medan dengan penduduk sekitar 43.000 orang. Di sini, sejak 1919 telah ada marsiadu hoda (berpacu kuda). Pejabat-pejabat Belanda dulu telah memanfaatkan kegiatan ini sebagai hiburan. Karena itu pernah ada organisasi bernama Revereniging Hoda Marsiadu yang anggotanya terdiri dari para pemilik kuda pacu, Kepala Negeri dan tokoh-tokoh masyarakat penggemar pacuan kuda.

Pada 1942, aman marsiadu hoda pun punah. Tentara Jepang menyita semua kuda yang haik untuk diajak berperang. Revereniging Hoida Marsiadu mati dengan sendirinya. “Sebetulnya masyarakat masih menggemari,” kata seorang pemilik kuda balap, M.T. Silaban, 52 tahun, “cuma dana yang tidak ada.” Karena untuk menyelenggarakan satu perlombaan, harus tersedia berbagai macam ongkos. Ada uang rumput, uang juri, untuk hadiah-hadiah, untuk si tukang keker, dan sebagainya. Dulu, pemerintahan Hindia Belanda menyediakan semua itu.

Setelah beberapa waktu lalu Gubernur Tambunan berjanji akan memberi bantuan, panitia pun dibentuk. Lewat Musda (Musyawarah Daerah terbentuklah Pengurus Hoda Marsiadu Siborong-borong, awal April 1981. Pertandingan akan berjalan selama tiga hari, sejak Kamis pekan lalu, diikuti 63 ekor kuda.

Seminggu sebelum perlombaan berlangsung, pemilik kuda telah memanjakan kudanya. Hewan itu dimandikan, satu perlakuan yang sebelumnya tak dialami kuda-kuda itu. Tubuhnya juga dipijat dengan minyak yang dicampur minuman keras. “Supaya tambah energi,” tambah Silaban.

Menu kuda, lebih diistimewakan lagi, pagi telur empat butir plus minum bir hitam dua botol siang diberi unok dan dedak. Unok ialah batang pohon enau yang termuda dan lembut.

Sehari sebelum bertanding, ada manghontasi yaitu upacara berdoa agar menang, dihadiri kerabat dekat pemilik kuda. Upacara ini dilanjutkan dengan acara makan-makan.

Sejak semula, sang joki berada di tempat terhormat dalam upacara doa. Ketika acara makan, joki pun mendapat makanan yang terpilih. Dalam adat Batak, makanan terpilih — misalnya ayam — bagian kepala hanya diberikan kepada orang yang dihormati. Atau kalau ikan, dia harus diberi ikan emas, ikan kehormatan bagi orang sana. Ikan ini biasanya diarsik — dipepes dalam proses yang cukup lama, sehingga durinya empuk.

Kemenangan kuda yang ditunggangi joki berarti kehormatan bagi si pemilik kuda. Tidak jarang, joki didandani dengan pakaian yang menarik. Tapi bagaimana kalau kalah? “Joki tidak kena marah, itu nasib namanya,” kata Silaban. Karena itu, setiap pemilik kuda harus sudah memperhatikan kudanya sejak binatang itu masih bayi.

Seekor kuda yang kuat dan tangkas adalah jika sedang berlari kaki belakangnya bisa melewati kaki depannya. Ada pula yang percaya kalau bulu kaki kuda berpusar — disebut pisoran si hais -meskipun sering menang, peruntungannya tidak sejalan dengan pemiliknya. Artinya, setiap kali pemiliknya mendapat kemenangan, hadiahnya akan cepat terbang dari tangan. Tetapi kalau memiliki boda pisoran si panggomak atau hoda pisoran rante yaitu kuda yang mempunyai pusar rambut di bagian kepala berarti pemiliknya akan bernasib baik.

Pamangilan

Aturan-aturan dan cara bertanding lama, tetap dipakai. Misalnya, sebelum kuda turun ke gelanggang, pemilik kuda membagi-bagikan ombus-ombus yaitu kue khas dari Siborong-borong yang berbentuk kerucut. Petang itu, memang ada dibagikan ombus-ombus kepada beberapa penonton.

Panjang jalur perlombaan, tetap 1.220 meter seperti di tahun 1919. Joki juga tidak berpelana. Tanpa pelana inilah yang unik dari lomba kuda Batak. Karena beban kuda harus sama berat dengan penunggangnya, joki yang ideal adalah yang bertubuh ringan. Akibatnya banyak joki yang umurnya baru belasan tahun. Satu-satunya yang telah berkumis dalam pacuan Siborong-borong itu, cuma Tumpak Sihombing, ayah dari enam orang anak, karena berat tubuhnya cuma 25 kg.

Tetapi Tumpak yang dipandang telah berpengalaman, harus menyerah pada Poltak Silaban yang baru berusia 10 tahun dengan kuda yang bernama Patent. Padahal Poltak baru belajar menunggang kuda sehari sebelum bertanding. Mukanya pucat pasi ketika pemilik kuda menurunkannya. Baru setelah Poltak menginjak tanah beberapa saat, dia menyadari kemenangannya dan melompat-lompat kegirangan.

Pengaruh pamanggilan (ilmu hitam) tak lepas dari omongan orang di Siborong-borong. Sebab ketika si Barumun yang ditunggangi Tumpak Sihombing lari ke luar jalur pacuan, beberapa orang berteriak bahwa kuda itu terkena pamanggilan. Artinya, kena guna-guna sehingga tidak mau berlari benar. “Ah itu dulu,” sahut Silaban, “sekarang sudah tak ada lagi.”

Dahulu, kalau saputangan merah dikibaskan salah seorang penonton, yaitu saputangan yang berisi tenung, kuda yang tadinya berlari di depan, menjadi tercecer. Tetapi ada pamanggilan atau tidak, balap kuda Batak ini memang unik. Di samping sedikit kacau.

Sumber : Majalah Tempo, Edisi. 13/XI/30 Mei - 05 Juni 1981


Ada 4 tanggapan untuk artikel “Marsiadu siborong-borong”

  1. Tanggapan Repot Hutasoit:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    mantap do bah cess
    Website mu na on

    this opportinitis I would like to tell you, that your website is great
    Ai ise do perancang ni WEB munaon
    molo boe pa boa hamu jo ateh
    alana adong rencanaku mambaen WEB ni Hutasoit
    mauliate godang ate tu hamu marga sialaban i
    HORAS JALA GABE

  2. Tanggapan Saut P. Silaban:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    Bah, barita 26 taon nasalpu boi dapot muna ate…
    mantap…..!

  3. Tanggapan RIKKY,NABABAN:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    mantap do sude jala sude ro mamereng hutattai sian luat
    nadao ala ni uli hutai

  4. Tanggapan ROY P SILABAN:

    Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

    Denggan hian doi bah ! asa sude masyarakat indonesia tau siborong2 punya kebanggaan. mau liate

Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Gempa Meninggalkan Pilek

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Mengenang Arsitek “Telinga Gajah”