Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
8
Sep '79

Kota Jakarta, menurut Bung Karno


Beberapa bangunan & penataan wilayah di jakarta disainnya ditangai oleh bung karno, al: patung pembebasan irian barat, tugu nasional, gelora senayan, jembatan semanggi, patung tani, patung selamat datang. (kt)

SEKITAR 10 bangunan dan delapan penataan wilayah di Jakarta sekarang, harus diakui berkat Bung Karno, Presiden Republik Indonesia yang pertama. Untuk semua itudia juga memberikan disain selesai.

Paling tidak untuk patung Pembebasan Irian Barat yang dilaksanakan oleh pematung Edy Sunarso. Ada selembar kerta berisi disain gambar patung tadi dari Soekarno untuk Henk Ngantung–waktu itu Wakil Gubernur dan diserahi membuat disain patung tersebut. “Henk, begini ini, Iho,” bunyi tulisan dalam kertas itu.

“Untung ada Soekarno,” kata Wakil Ketua Ikatan Arsitek. Indonesia, ir Adhi Mursid. Ia menilai positif andil Soekarno pada tata kota ibukota kita. Sebab, “andaikata Bung Karno tidak membuat Tugu Nasional di Taman Merdeka itu, bayangkan saja taman itu sekarang jadi apa. Tentu akan dilanda bangunan segala macam,” kata Mursid. Dengan adanya tugu, para perencana tata kota terpaksa memperhitungkan kehadirannya, dan selamatlah lingkungan Tugu Nasional dari padatnya bangunan. “Untuk menonjolkan tugu itu, ‘kan sekelilingnya harus merupakan tempat lapang,” kata Mursid lagi.

Api Monas

Juga gedung BNI 1946 Pusat di Jakarta Kota, memaksa perencana tata kota sekarang berfikir dua kali terlebih dahulu apabila akan membangun gedung sekitar itu. Gedung hasil karya arsitek Silaban itu, memang kemudian menjadi ciri khas kawasan Jakarta Kota.

Lebih-lebih setelah kompleks Gelora Senayan dan Jembatan Semanggi dibangun, andil Soekarno makin tampak. “Dimulailah era baru untuk dunia insinyur dan arsitek Indonesia, ialah bahwa kita sebetulnya bisa membangun sendiri,” kata Adhi Mursid. Diakuinya beberapa disain datang dari Rusia, tapi dilaksanakan sepenuhnya oleh tenaga-tenaga Indonesia sendiri.

Tapi ada yang disayangkan Adhi Mursid “Menonjolnya selera pribadi Bung Karno dalam monumen dan tata kota.” Barangkali memang tak bisa dihindarkan. Wakil Ketua IAI itu memberikan contoh bentuk Tugu Nasional yang begitu naif. “Memangnya membuat api harus berbentuk melenggok begitu? Itu bentuk yang terlalu kekanak-kanakan.” Yang dimaksud Mursid, nilai simbolis monumen tersebut jadi berkurang karena bentuk yang kurang sofistikasi itu.

Begitu juga Patung Tani di Menteng Prapatan, yang didatangkan dari Rusia menurut Mursid sesungguhnya sangat kontroversial dengan lingkungan sekitarnya. Dengan suasana bangunan-bangunan beton, apalagi setelah Hotel Arya Duta berdiri, patung itu terasa mengganggu. Bentuknya memang bagus, tapi ide petaninya itu menimbulkan rasa risih: seperti dua orang udik yang sedang kesasar di tengah ramainya lalu lintas kota metropolitan. Tapi Bung Karno barangkali memang bermaksud supaya kita selalu ingat pada rakyat marhaen.

“Kota-kota kian lama kian buruk. Karena perkembangan penduduk, urbanisasi, kurangnya dana, tak mungkin lagi membuat kota idaman,” kata Mursid mengutip buku Philips Johnson, arsitek Amerika Serikat terkemuka, yang tahun ini mendapat hadiah dari Ikatan Arsitek Amerika Serikat. Karena itu adanya monumen-monumen dan bangunan yang tepat, sangat bermanfaat. “Orang kemudian tak akan membangun seenaknya, terpaksa memperhitungkan monumen atau bangunan yang telah ada.

Karena itu ia sangat menyayangkan Gedung Pertamina (yang baru) yang menurut Mursid sangat mengganggu lingkungan dalam kawasan Monas. “Hotel Borobudur itu masih bagus. Dia menghadap ke Lapangan Banteng. Jadi kawasan sekitar itu menjadi berpusatkan pada lapangan tersebut. Tapi Gedung Pertamina itu tak jelas arahnya.”

Dipandang dari sudut biaya pembangunannya, monumen dan bangunanbangunan mentereng memang mahal dan mungkin tak sesuai dengan kekayaan negeri ini. Tapi menurut Mursid, monumen dan bangunan memang ada fungsinya. Pertama sebagai tanda kawasan (land mark). Supaya dari jauh, orang sudah tahu dia ada di mana. Pernahkah anda merasa asing di suatu tempat di Jakarta ini, dan kemudian merasa “aman” karena dari jauh sudah melihat puncak Monas? Kedua, merupakan sifat khas suatu daerah. Bila anda sampai pada satu deretan bangunan bertingkat, lebih kurang itu adalah daerah pertokoan. Dan yang terakhir, menurut Mursid, ide di balik bangunan itu. Patung Selamat Datang misalnya dipasang di depan Hotel Indonesia untuk menunjukkan keramahan orang Indonesia.

Tentu saja ada beberapa yang tak terlaksana karena keburu Soekarno harus turun. Umpamanya Menara Bung Karno yang sedianya akan dibangun di kawasan Ancol, sebagai pertanda pintu gerbang bagi yang masuk Jakarta lewat laut. Kita tak tahu bagaimana itu nanti, andai jadi dibangun. Tapi melihat disain yang dipamerkan ada sesuatu yang agak terasa aneh. Yaitu menara itu terlalu “modern” bentuknya: memberikan gambaran bentuk roket-roket. Tapi apakah Soekarno memang memandang ke masa depan Indonesia yang penuh roket?

Sumber : Majalah Tempo, Edisi. 28/IX/08 - 14 September 1979


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Gedungnya Laris Tapi Turis Kecewa

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Ada arsitek mendisain kampung