Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Rabu
22
Feb '78

Politik-Budaya (di) Istiqlal


Hari ini, Presiden Soeharto meresmikan mesjid Istiqlal, Jakarta . Begitu diresmikan, Istiqlal tak hanya langsung ditabalkan sebagai mesjid nasional sekaligus mesjid yang terbesar di tanah air, tetapi bahkan ditahbiskan sebagai mesjid yang terbesar di seantero Asia Tenggara.

Dengan luas bangunan sekira empat hektar, luas tanah sembilan hektar, dengan lima lantai, kompleks Istiqlal mampu menampung hingga 70 ribu orang sekaligus pada waktu yang bersamaan. Selain memiliki bangunan induk dan kubah, Istiqlal dilengkapi dengan emper penghubung, teras raksasa dan menara, halaman, taman, air mancur, serta ruang wudhu yang luas. Isitiqlal memang raksasa di Asia Tenggara.

Pembangunan Istiqlal menghabiskan waktu selama 17 tahun. Pembangunan Isitiqlal dimulai pada 24 Agustus 1961 yang ditandai oleh peletakkan batu pertama langsung oleh Presiden Soekarno. Rentang masa yang panjang untuk menuntaskan proyek monumental ini selain disebabkan tingkat kesulitan pembangunan yang tinggi, tapi juga banyak disebabkan senarai persoalan di luar teknis pembangunan. Situasi politik pada masa kepemimpinan Demokrasi Terpimpin, seperti kampanye pembebasan Irian Barat dan konfrontasi dengan Malaysia serta tragika G-30-S kerap memaksa pembangunan Istiqlal tersendat.

Rencana pembangunan Istiqlal sendiri muncul pada 1950. Saat itu Menteri Agama, KH Wachid Hasyim, melansir gagasan membangun sebuah mesjid yang tak hanya berskala nasional, tetapi juga mencerminkan identitas Indonesia itu sendiri. Bersama Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto dan Ir Sofwan, mereka membentuk Yayasan Mesjid Istiqlal (Istiqlal artinya “merdeka”).

Pada 1954, Presiden Soekarno menyetujui ide tersebut. Mengingat mesjid itu dibayangkan sebagai monumen sekaligus minatur idenitas Indonesia , tentu saja bentuk dan arsitektur mesjid mesti direncanakan secara matang. Seperti juga pembangunan menara Eiffel, akhirnya diputuskan bahwa arsitektur mesjid disayembarakan secara terbuka. Presiden Soekarno sendiri yang menjadi Ketua Dewan Juri, dibantu profil macam Ir Rooseno, HAMKA, dan Oemar Husein Amin.

Tepat pada 5 Juli 1955, panitia sayembara mengumumkan rancangan yang akhirnya terpilih. Rancangan yang dijuduli “Ketuhanan” dinyatakan sebagai pemenang. Perancang “Ketuhanan” itu bernama Frederich Silaban, seorang arsitek yang kelak disebut Soekarno sebagai “By the Grace of God”.

Jatuhnya pilihan pada Silaban dengan rancangan ‘”Ketuhanan” yang digarapnya, tentu bukan kebetulan. Ada dua koinsidensi yang menarik di sini. Silaban, orang yang menjadi arsitek pembangunan mesjid nasional yang terbesar di kawasan Asia Tenggara, justru merupakan seorang penganut Protestan yang taat. Koinsidensi kedua adalah posisi Istiqlal yang berhadapan dengan gereja Katedral di sebelah selatan.

Dua koinsidensi yang muncul di balik pembangunan Istiqlal menunjukkan bagaimana konsep toleransi beragama dikembangkan sedemikian rupa dengan begitu halus dan sistemiknya. Tradisi toleransi beragama merembes hingga lokus-lokus (Istiqlal dan Katedral) yang kelak ditabalkan sebagai salah satu penanda identitas nasional. Bagi Soekarno sendiri, Istiqlal (kendati ia tak sempat menyaksikan bentuk akhirnya), seperti juga Monas dan Istora Senayan, adalah bagian integral dari politik mercusuar yang makin sering digeber di pengujung kekuasaannya.

Yang jenial dari Soekarno terletak pada kemampuannya dalam menempatkan bengunan-bangunan raksasa yang menjadi cermin langgam dan visi politiknya yang hiperbolis itu sebagai bagian tak terpisahkan dari ikhtiar menemukan dan merumuskan identitas dan kebudayaan nasional; betapa pun identitas dan kebudayaan nasional sendiri bukanlah istilah yang bebas polemik.

Tapi setidaknya, dari situlah, apa yang “politis” pada saat yang sama ternyata juga menjadi sesuatu yang kultural. Politis dan kultural sekaligus.

Sumber : (Taufik Rahzen) Indexpress


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Payudara Dan Jam Malam
Artikel selanjutnya :
   » » Kepada setiap orang istiqlal:…