Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
14
Mei '77

“tak ada yang bisa bikin rumah …”



Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions-formatting.php on line 76

Wawancara tempo dengan arsitek friedrich silaban, tentang bangunan-bangunan tinggi di jakarta, bangunan balai kota, bangunan di ancol, arsitektur tradisional dan sebagainya.

SANGAT menarik bicara dengan Silaban. Beberapa- gagasan dan pendapatnya tentang perencanaan kota dan arsitektur, cukup aktuil. Berikut ini pendapat-pendapatnya:

Tanya: Bagaimana tentang bangunan-bangunan tinggi di Jakarta?

Jawab: Coraknya hampir sama semua, kurang memperhatikan perhitungan bahwa kita ini hidup di daerah tropis. Buat apa membangun gedung pakai AC? Lain dengan Eropa dan Jepang, di sana, dalam setiap bangunan kan selalu dicari intimitas, kehangatan. Mereka bermusuhan dengan alam yang ganas. Sedang kita tidak bermusuhan dengan alam. Karena itu bangunan-bangunan kita hendaknya lebih terbuka hingga kita tetap dekat dengan alam. Khusus mengenai AC ini hati nurani saya berbisik. “kita ini kurang adil sementara rakyat masih banyak yang belum pakai listrik, kita sudah menggunakannya secara berlebihan”.

T: Tentang bangunan Balai Kota Jakarta yang bertingkat tinggi itu?

J: Sebenarnya Balai Kota itu tak perlu tinggi seperti menara. Yang penting luas. Lain dari office building yang semua ruangannya bisa disewakan. Balai Kota sebaiknya berada di tanah yang luas hingga lebih mudah kontak dengan masyarakat. Artinya, bukan semata-mata kantor tapi juga merupakan tempat pelancongan bagi mereka yang datang dari daerah. Bahkan diperlukan sebuah public hall, kalau setiap kali Bang Ali tnau bicara dengan warganya. Apa boleh buat, ketika merencanakan: gedung itu rupanya uang Bang Ali pas-pasan saja. Tapi yang jelas bangunan itu dari segi arsitektur terlalu telanjang dan tertutup.

T: Tentang bangunan-bangunan di Ancol?

J: Rencana membangun Ancol itu dulu datang dari saya. Saya ajukan pada Bung Karno, mengingat Jakarta itu kan kota pantai. Dulu kalau orang datang dari arah laut tak terasa bahwa Jakarta kota pantai. Yang mereka lihat hanya gudang-gudang dan alat-alat pengangkat barang. Itulah sebabnya saya sarankan agar di Ancol dibangun “Menara Bung Karno”. Sekarang, kalau di sana hanya dibangun cottage, itu sayang sekali. Tak sesuai dengan investasi yang begitu besar yaitu biaya pengurukannya. Maka itu sehaiknya di Ancol lebih diperbanyak dengan bangunan tinggi, supaya tampak Jakarta sebagai kota pantai. Tentu saja dengan mengindahkan perlunya taman-taman yang luas.

T: Ada pendapat sementara arsitek muda bahwa dengan arsitektur tradisionil, biaya pembangunan rumah rakyat bisa lebih murah. Bagaimana?

J: Ah. itu terlalu dicari-cari. Bagaimana rumah bisa murah kalau pangan dan pakaian tak ada yang murah? Pangan dan pakaian kan kebutuhan primer? Kalau tak bisa hidup dengan gaji, bagaimana kita bisa menyisakan 155 gaji untuk perumahan Rumah murah, tak akan jadi persoalan kalau orang sudah bisa hidup dengan gaji.

T: Kalau begitu bagaimana supaya bisa bikin rumah murah?

J: Tak ada yang bisa bikin rumah murah kecuali rakyat sendiri yang merencanakannya. Kalau sudah pakai insinyur, truk, pemborong, bagaimana bisa murah? Sejak zaman nenek-moyang, rakyat sudah bikin rumahnya sendiri. Nah, yang terpenting ialan bagaimana meningkatkan kehidupan rakyat. Kalau menunggu sampai pemerintah bisa membangun perumahan rakyat, wah bisa berabe. Bayangkan, setahun dibutuhkan 10 juta unit rumah, sedang kemampuan pemerintah membangun hanya 100.000 unit saja. Nah, apa artinya ini untuk kebutuhan yang begitu besar? Terutama kalau melihat angka kelahiran yang begitu tinggi.

T: Bagaimana kemampuan arsitek-arsitek kita

J: Bangsa kita punya bakat besar di bidang seni terutama arsitektur. Dari segi ini tak perlu dikhawatirkan. Yang berbakat segudang. Cuma yang perlu kita khawatirkan ialah: kita ini kurang punya mentalitas ekonomi, mentalitas dagang dan mentalitas teknologi. Nah ini yang masih harus kita kejar.

Sumber : Majalah Tempo, Edisi. 11/IIIIIII/14 - 20 Mei 1977


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.






Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel sebelumnya :
   » » Silaban sigideon: “bikin kecil …”

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/jf_silaban/silaban.net/wp-includes/functions.php on line 590
Artikel selanjutnya :
   » » Lalu Muncul Soal Pupuk