Silaban Brotherhood: Media Informasi dan Komunikasi Generasi Silaban di Internet

Pilih Topik Artikel:

Sabtu
14
Mei '77

Silaban sigideon: “bikin kecil …”


Kisah perjuangan friedrich silaban hingga menjadi seorang arsitek terkenal. proyek2 besar yang dicap orang mercusuar, menurut pengakuannya adalah satu pandangan yang jauh ke depan.

TAPANULI, 1927. Seorang pemuda, yada suatu hari membaca iklan tentang penerimaan siswa baru STM (d/h Koningin Wilhelmina School) di Batavia. Syaratnya: mengikuti testing berhitung dan menggambar. Lulus testing di kantor Residen Sibolga, ia berangkat ke Batavia mengikuti tes lisan, dengan bekal 100 goelden. Cukup banyak. “Dengan uang itu, kamu masih bisa pulang kalau tidak lulus”, kata orang tuanya.

Sial. Di kapal, uang itu hilang. la menangis. Bagi pemuda yang baru berusia 15 tahun itu, Batavia terasa begitu jauh dari kampung dan amat asing. Sementara menyesali diri karena kurang berhati-hati, seorang orang Arab berjanggut datang menghampirinya. Di geladag kapal itu, diceritakannya nasib malang yang menimpanya. Terharu mendengar kisah sedih itu, tanpa komentar Arab berjanggut itu memasukkan sejumlah uang ke kantong si pemuda.

“Dua genggam penuh tanpa dihitung”, kata Friedrich Silaban, 64 tahun, kepada Zulkifly Lubis dari TEMPO di kantornya, Proyek Pembangunan Masjid Istiqlal Jakarta. Wakil Kepala Proyek Pembangunan Masjid Istiqlal inilah yan tahun 1954 memenangkan sayembara disain masjid Istiqlal. Silaban melanjutkan ceritanya. Sampai di Batavia, uang dihitung: 75 goelden. Lumayan. “Tuhan kasih pengalaman pada saya supaya berhati-hati”, ujarnya. Sejak itu, katanya, ia tak pernah lagi kehilangan, “walaupun saya berkali-kali ke luar negeri”.

Silaban, juga dikenal sebagai arsitek yang amat dekat dengan almarhum Bung Karno. Di zaman Jepang, Silaban bekerja di Kotapraja Bogor. Ia sering berkunjung ke rumah sahabatnya, Ernest Dezentje. indo Belanda-Sunda, pelukis tenar saat itu. Bung Karno juga pengagum Dezentje. Maka di rumah pelukis itulah mereka bertemu. Seminggu 3 kali Jum’at, Sabtu dm Minggu Bung Karno selalu di Istana Bogor. Dan pada hari-hari itulah Bung Karno sering memanggilnya.

“Bukan Mercusuar”

“Kami selalu membicarakan hal-hal yang menyangkut bangunan”, tutur Silaban. Bung Karno yang insinyur sipil itu, menurut Silaban, jiwa dan pandangannya lebih dekat pada soal-soal arsitektur. Ketika masih jadi mahasiswa, Bung Karno (bersama seorang gurubesarnya) berhasil membuat disain hotel Preanger, Bandung.

Begitu dekat Silaban dengan Bung Karno, hingga tak salah kalau peranan Silaban cukup besar dalam melahirkan proyek-proyek mercusuar. Namun ia tak menerima sebutan “mercusuar” itu. “Itu bukan mercusuar, tapi satu pandangan yang jauh ke depan”, kilahnya. “Lihat itu gedung Bank Indonesia jalan Thamrin. Kalau dulu menuruti rencana saya, tak seperti itu jadinya. Sekarang kan terasa sempit dan harus pakai AC”, katanya.

Dasar Yahudi . . .

Menurut Silaban - yang memenangkan sayembara perencanaan gedung Bl itu - semula dia minta agar bangunannya lebih luas dari yang sekarang. Tapi tak disetujui. “Waktu itu direksinya masih orang Belanda. Biasa kan, mereka lebih hemat”, katanya. Silaban yang merasa tak dipengaruhi oleh gaya arsitektur tertentu itu tahun 1954 memenangkan sekaligus 3 sayembara perencanaan masjid Istiqlal, Bank Indonesia dan Monumen Nasional. Dan sampai sekarang ia masih membuat disain beberapa bangunan besar di beberapa kota. Gedung BI Surabaya dan BNI ‘46 Medan misalnya, sampai sekarang belum selesai.

Untuk sayembara Monas, ia hanya berhasil sebagai pemenang kedua. “Tapi ingat, waktu itu pemenang pertama tak ada, karena panitia rupanya tak puas dengandisain yang disayembarakan”, katanya. Sebagai pemenang sayembara Istiqlal ia menggondol hadiah Rp 25.000 (uang lama), Rp 40.000 (untuk Bank Indonesia) dan Rp 25.000 (untuk Monas). “Hadiah Istiqlal habis buat potong kerbau karena sudah janji sama teman-teman”, katanya tertawa.

Bagi Silaban yang Kristen Protestan, kemenangannya dalam sayembara Istiqlal sungguh berarti. Sebelum mulai membuat disain, ia berdoa pada Tuhan. Ia ingat pada Kisah Gideon dalam Alkitab bab Hakim-hakim. Gideon adalah seorang lemah, bukan jenderal, tapi diperintah oleh Tuhan berperang lewat sebuah ilham. Tidak lantas percaya, Gideon mohon agar Tuhan memberi isyarat-isyarat, kalau memang Tuhan memerintahkannya begitu.

Gideon mohon agar kulit domba yang diletakkannya di lapangan jadi basah sementara benda-benda sekelilingnya tetap kering. Esoknya! Gideon melihat kulit domba itu basah. “Tapi dasar Yahudi, Gideon masih minta isyarat sekali lagi”, Silaban berkisah. Mendapat isyarat kedua kali, Gideon pun langsung berangkat berperang. Dan menang.

Begitu pula Silaban. Mulai mengerjakan disain masjid Istiqlal, ia terus-menerus berdoa. “Oh, Tuhan, kalau benar di mata Tuhan saya sebagai pengikut Yesus mampu membuat disain masjid, berilah saya kemenangan dalam sayembara ini. Dan sebelum mengangkat potlot saya juga sudah berdoa. Saya terus berdoa, sebab siapa tahu jawaban Tuhan datang terlambat”, ujarnya.

Dan pertanda itu pun datanglah - ia menang. Masih ada cerita lain di balik kemenangannya. Silaban sempat sakit sebelum disainnya selesai. Dengan bantuan temannya, Marah Mansur, ia menyelesaikan disain sambil tergeletak di ranjang. Waktu itu tinggal memberi warna, sementara batok lutut kanannya bergeser akibat salah pijat. Terpaksalah sambil berbaring dan temannya memegang kertas gambar, disain diselesaikan. Lebih dari itu, ia yakin Tuhan membenarkan tindakannya - meski ia tahu ada sementara orang yang mengkritiknya, “kok mau-maunya bikin disain masjid”.

Karena Bukan Islam . . .

Tapi masjid yang dibayangkan panitia itu berubah sama sekali di tangan Silaban. Semula ia keberatan dengan luas tanah yang 7 Ha ia minta agar disediakan 30 Ha. Waktu itu panitia hanya membayangkan sebuah masjid dengan gedung induk yang menampung 20.000 jamaah. Itu pun ditentukan pula luas tempat bersembahyang per orang seluas 50x 100 Cm.

Karena bukan orang Islam, Silaban mengadakan observasi ke beberapa masjid di Bogor dan Cianjur. Akhirnya ia memutuskan bahwa tempat bersembahyang per orang yang seluas 0,5 MÿFD itu tak mencukupi. Tepatnya harus 60 x 120 Cm alias 0,7 MÿFD. Dan panitia, akhirnya menyetujui, meski soal luas tanah seluruhnya panitia tetap pada keputusan semula. Soalnya, tempatnya memang sudah direncanakan, di bekas Wilhelmina Park dan Benteng Citadel.

Namun pemerintah berjanji akan memperluas lagi dengan membongkar semua bagunan ABRI di sekitarnya termasuk Markas Kodam V/Jaya. Dan sekarang, luasnya jadi 10 Ha. Adapun luas bangunan induk bertambah lebih dari separoh luas yang semula direncanakan. Tak sampai di situ, Silaban juga menambah beberapa teras untuk sembahyang Idulfitri dan Iduladha. “Untuk sembahyang Jum’at saja cukup. Tapi untuk sembahyang hariraya, biasanya umat Islam sembahyang di tempat-tempat tertentu saja, hingga memerlukan tempat yang lebih luas”, kata Silaban.

Itulah sebabnya Silaban menghendaki perluasan. Belum lagi tempat parkir. Sampai saat ini Silaban tak bersedia menjelaskan jumlah biaya pembangunannya. Yang pasti, masjid yang akan diresmikan akhir tahun 1977 ini sebenarnya baru selesai 50. Kapan selesai, Silaban hanya bilang, “kalau uang cukup dalam 4 tahun bisa selesai”. Menurut Mayjen (purn) ir. Sudarto, kepala Proyek yang dibutuhkan sekitar Rp 3,5 milyar (uang lama)dan Rp 6,5 milyar (uang baru).

Untuk menyelesaikannya dibutuhkan Rp 2 milyar setahun. Menurut perkiraan seorang arsitek lain kepada TEMPO, biaya yang masih dibutuhkan sekitar $ 100 juta AS alias Rp 40 milyar. “Dan menurut perhitungan saya, masjid itu baru selesai 20 tahun lagi”, kata sumber yang tak mau disebut nama itu. “Itu kalau mau sempurna”.

Soal waktu yang begitu lama buat membangun bagi Silaban sebenarnya tak perlu diherankan. “Gereja St Peter di Vatikan yang begitu megah saja baru selesai selama 20 masa pemerintahan beberapa Paus. Dan biayanya sampai S 400 juta AS (sebelum merosot). Dihitung dengan kurs sekarang sekitar $ 1,5 milyar AS” katanya. Dan Silaban yang suka bangunan megah itu menyatakan “kita harus bangga dengan bangunan bangunan seperti itu”.

Bung Karo Tak Setuju

Silaban mengagumi 2 arsitek dunia: Frank Lloyd Wright (AS) dan Le Corbusier (Perancis). Itulah sebabnya, baginya “kita tak perlu terikat pada arsitektur tradisionil, asal daiam membangun kita tetap setia pada kondisi alam tropis”. Dan karena itulah disain Monas bikinan Silaban begitu megah. Saking megahnya, malah tak dipakai. Tingginya saja sampai 00 meter, dengan mimbar yang mampu menarllpung 20 000 orang.

“Bung Karno tak setuju, alasannya kurang bersifat Indonesia”, kata Silabam Akhirnya disain yang dipakai ciptaan arsitek istana, Sudarsono, dengan Bung Karno sendiri sebagai supervisi. “Cuma lihat saja sekarang. Monas jadi kalah dengan gedungnya Bang Ali: Balai Kota. Padahal disain itu saya buat sesuai dengan gagasan Bung Karno untuk mengecilkan Borobudur”, tambahnya. Waktu itu Bung Karno bilang, “harus kita bikin Borobudur jadi kecil”. Maksudnya, barangkali, ingin membuat sebuah monumen yang benar-benar megah melebihi Borobudur, satu dari sejumlah kebanggaan dunia itu. Setelah disainnya tak terpakai, Silaban baru sadar. “Bung Karno biasa bersikap begitu karena memang suka bakar semangat. Dan sesudah itu ia mundur teratur” ujar Silaban.

Tentang Istiqlal, meskipun disain sudah siap tahun 1954, pekerjaan persiapan baru mulai tahun 1961, sedang peletakan batu pertama 3 tahun kemudian oleh Bung Karno. Pembangunan itu hanya sampai sekarang sudah 16 tahun. Ketika itu sampai-saunpai gambar orisinilnya sempat hilang. “Untung saya masih punya kopinya”, katanya.

Silaban menilai, naluri Bung Karno dalam melihat yang indah dan tak indah sangat tajam. Ada sebuah proyek mercusuar yang tak jadi dibangun, Menara Bung Karno, yang dulu direncanakan di Ancol dekat Pasar Ikan. “Menara itu direncanakan mirip Donou Turm di Wina. Gambar-gambarnya, sekarang masih disimpan Bang Ali”, ujar Silaban yang untuk persiapan pembuatan disainnya me rasa perlu 2 minggu tinggal di Wina.

Kenal Bung Karno di zaman Jepang. ketika itu Silaban mengaku “masih saja dalam politik, bahkan agak naik”. Suatu hari ia bertanya pada Bung Karno, “me ngapa bapak jadi begitu pro Jepang?” Sukarno hanya tertawa saja. Dan pada saat pidato di bioskop Maxim Bogor, antara lain Bung Karno melontarkan kata-kata, “saya tahu di sini ada mata-mata musuh”.

Kemudian pemimpin itu, yang didampingi oleh Suzuki, orang Jepang, berbicara tentang kekuatan Jepang dan Amerika. “Secara tatabahasa, pidato itu kalau ditafsirkan bisa berarti Jepang yang kuat”, kata Silaban. “Tapi karena orang Jepang yang mendampinginya tak tahu nuansa bahasa kita, ia tak tahu sebenarnya Bung Karno menjelaskan bahwa Jepang bakal kalah perang. Sejak itu saya yakin bahwa Bung Karno sebenarnya tidak pro Jepang”, tutur Silaban. Ketika hal itu ia ceritakan kepada Bung Karno, yang bersangkutan cuma tersenyum.

Mau Dibunuh

Sejak zaman Jepang (1942) sampai penyerahan kedaulatan (1949) merupakan masa-masa sedin dan gembira. Pernah ditahan Jepang, di masa revolusi pun pernah pula ditahan pemuda peluang - dituduh pro Belanda. Di tahan Jepang di Cipanas, ia dibebaskan oleh tentara Inggeris lalu dibawa ke Sukabumi. Di Sukabumi pernah mau dibunuh oleh tentara pejuang, Silaban dipindah ke kamp Kedunghalang, kawasan elit di Bogor.

Di Kedunghalang itu pulalah ia kawin dengan Letty Kievits, gadis Sunda-Belanda, yang kini dianugerahi 10 anak. Sebelum penyerahan kedaulatan, Silaban dan keluarga cuti ke Negeri Belanda. “Tepat pada hari penyerahan kedaulatan itu, 29 Desember 1949, saya berada di kapal”, ujarnya Di Amsterdam, Silaban belajar lagi di Academie van Bouwkunst selama 1 tahun.

Pulang dari Negeri Belanda ia kembali ke Bogor menduduki jabatannya yang lama, Kepala DPU Kotapraja Bogor. Jabatan ini terus dipegangnya sampai ia pensiun tahun 1965. Begitu lama menja bat kepala DPU, katanya, “saya ini nggak pernah naik pangkat”. Arsitek bllkan tamatan perguruan tinggi yang lebih banyak belajar sendiri ini, oleh Bung Karno pernah dijuluki sebagai arsitek “by the race of God “.

Sejak Orde Lama diganyang, Silaban yang begitu dekat dengan Bung Karno selama 3 tahun nganggur. Tapi ia tidak mengalami pemeriksaan seperti halnya orang-orang yang digolongkan sebaga orla. Begitu akrab hingga saya tak l ernah bicara dalam bahasa Indonesia de ngan Bung Karno”, kata Silaban.

Dalam setiap pertemuan, juga dalam sidang Dewan Perancang Nasional (Silaban salah seorang anggotanya), di mana hadir Mr. Moh. Yamin, ir. Rooseno Prof. Priyono, Bung Karno selalu berbahasa Belanda dengan Silaban. Suatu saat Bung Karno minta maaf kepada hadirin, “maaf saudara-saudara, jangan gusar. Kita, Silaban dan saya, lebih memahami jiwa masing-masing kalau bicara dalam bahasa Belanda”.

Tak Perlu Ikut Ujian

Karier Silaban yang begitu tinggi sebagai arsitek, sesungguhnya tak begitu mudah dicapai. Lahir di Bonandolok, Tapanuli, 16 Desember 1912, ia adalah anak Sintua Jonas Silaban. Sintua adalah ucapan bahasa Batak buat “Saint”, sebutan seorang pengurus Majelis Jemaah Gereja Huria Kristen Batak Protestan. Tahun 1927 ia tamat HIS di Narumonda, Tapanuli. Lalu melanjutkan ke KWS (STM) di Jakarta.

Di Jakarta ia mondok di rumah pendeta Nainggolan, sahabat orangtuanya, di jalan Kwitang. Begitu ia datang ke sekolah, kepala sekolah KWS Laffermann langsung memberinya buku-buku. “Kamu tak perlu ikut ujian, karena nilaimu bagus”, kata Laffermann. Setahun di KWS, orangtuanya meninggal. “Lalu siapa yang membiayai sekolah saya”, fikirnya saat itu.

Kepala Sekolah menyarankan agar minta surat pada kontrolir Siborong-borong yang menyatakan tak sanggup membiayai ’sekolah.’Dan begitu mendapat surat dari Tapanuli, ia mendapat beasiswa. “Hanya sehari saja mengurusnya”, tutur Silaban. Sejak itu ia pindah mondok di rumah orang Belanda, “supaya saya bisa lebih tekun belajar”. Soalnya, di rumah pendeta Nainggolan ia tak mendapat kamar tersendiri buat belajar dan menggambar.

Hampir tamat KWS, Silaban pindah lagi, ke rumah J.H. Antonisse, seorang arsitek yang diakunya sebagai bapak angkat. Selama itulah ia sempat mengikuti pameran gambar yang diselenggarakan setiap tahun di Pasar Gambir. Rupanya Antonisse tertarik pada bakat Silaban. Kebetulan ketiga anak Antonisse tak satu pun yang tertarik jadi arsitek. Maka hampir seluruh ilmu Antonisse “diturunkan” pada Silaban.

Tamat KWS Silaban bekerja di Kotapraja Batavia, kemudian pindah ke ZeniAD Belanda, sebagai opseter. Tahun 1935 Silaban yang juga tertarik pada perencanaan bangunan mengikuti sayembara perencanaan rumah walikota dan beberapa hotel. Sebagai satu-satunya pribumi, saat itu Silaban memenangkan hadiah ketiga. “Perhatian saya waktu itu memang sudah berat pada perencanaan daripada pelaksanaan”, katanya.

Pujian Tjarda

Sejak itulah ia makin percaya pada kemampuannya sebagai arsitek. Suatu hari, pada Perang Dunia II, Jerman menyerbu Negeri Belanda. Dan- Silaban membuat monumen sementara untuk mengenang orang-orang Belanda yang gugur. Monumen dari kayu dan kain blacu itu sempat membuat Gubernur Jenderal untuk Hindia Belanda Tjarda van Starkenborg tercengang karena dibuat cuma dalam waktu sehari. Dan Tjarda memberinya selembar surat pujian.

“Sebagai inlander, bagi saya hal itu sangat mengesankan”, kata Silaban. Ia sendiri mengakui, ketika itu buta politik. Kisah yang sama, dan justru karena buta politik itu, terjadi lagi di zaman Jepang. Ketika Syucokan (residen) Bogor meninggal, Silaban diminta mernbuat kuil untuk penghormatan bagi arwah Syucokan. Ia membikinnya cuma dalam waktu semalam saja. Dilaksanakan dengan beberapa pekerja, “malam itu kami menghabiskan bertong-tong kopi dan ratusan tusuk sate”.

Sungguh, dua pengalaman mengesankan yang tak pernah ia lupakan.

Di hari tuanya sekarang, ia masih bekerja sebagai Wakil Kepala Proyek Pembangunan Masjid Istiqlal. Tiap hari, Senin sampai Kamis ia berangkat dari Bogor jam 6 pagi dan baru pulang sekitar jam 5 sore. Hari Jum’at ia habiskan di rumah membaca buku, Sabtu dan Minggu untuk keluarga. “Dibanding dengan dulu, sekarang saya tak sibuk lagi”, katanya.

Satu-satunya yang jadi urusan tinggal Masjid Istiqlal, sebab perusahaannya Biro Arsitek Silaban sudah lama mandeg. “Kehabisan modal”, katanya. Ia sudah memutuskan menghabiskan sisa umurnya buat menulis buku. “Isteri saya mendesak agar meninggalkan sebuah buku untuk anak-anak”, katanya lagi.

Punya 2 cucu dari 2 anaknya yang sudah berumah-tangga, di rumahnya jalan Gedung Sawah II (belakang hotel Salak Bogor), Silaban sekeluarga tampak hidup berbahagia. Rumahnya bagus dengan arsitektur menarik, dengan beberapa pohon rindang depan rumahnya. Di sana nongkrong sebuah mobil Chrysler yang otomatik penuh. “Mobil ini pernah dipakai berkeliling istana oleh Bung Karno”, katanya bangga. Dan sebagai kenang-kenangan, sang mobil kini tak lagi dipakainya. Tapi di hari-hari tertentu “dipanasi” agar mesinnya tetap terpelihara.

Meski dulu suka bekerja keras, kini Silaban harus lebih banyak menjaga kesehatannya. Selama tak bekerja 3 bulan (sejak pengganyangan Orde Lama dulu), ia kejangkitan penyakit kencing manis. “Dulu saya biasa bekerja 14 jam sehari. Dan seperti kebanyakan orang Batak saya juga banyak makan. Rakus”, katanya tertawa. Mungkin itulah sebabnya ia kena diabetes. Dan karenanya ia tak lagi makan atau minum yang manis-manis.

Sumber : Majalah Tempo, Edisi. 11/IIIIIII/14 - 20 Mei 1977


Silahkan memberikan tanggapan !

Catatan:
1) Mohon Maaf.. Tanggapan perdana Anda akan kami moderasi sebelum ditampilkan !
2) Selanjutnya dikemudian hari, mohon gunakan Data Anda (Nama, Email, Website) dengan konsisten (sama) agar tanggapan Anda langsung tampil (tanpa moderasi) dan memudahkan Anda menelusuri komentar-komentar sebelumnya pada situs ini.





Artikel sebelumnya :
   » » Hedy Regia Silaban Menikah
Artikel selanjutnya :
   » » “tak ada yang bisa bikin rumah …”